TEOLOGI HINDU DALAM PARADIGMA ILMU PENGETAHUAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Agama merupakan ajaran yang di dalamnya menguraikan tentang keyakinan terhadap
Tuhan dan usaha manusia untuk mengetahui
serta menghubungkan diri dengan Tuhan. Keyakinan
manusia terhadap keberadaan mahluk adi kodrati (Tuhan) yang menjadi
sumber dan kembalinya seluruh tatanan kehidupan
di alam semesta ini merupakan
dasar dari agama. Pencarian manusia
pada Tuhan sebagai
asal mula dan kembalinya
seluruh ciptaan adalah tujuan dari agama (Suadnyana, 2018).
Konsep ketuhanan dalam agama Hindu secara umum
dapat dibagi menjadi dua yaitu Acintyarupa
(impersonal) dan Cintyarupa (personal) dan bersifat Nirguna
(transcendent) dan Saguna (immanenent) (Titib, 2011: 42).
Tuhan dalam wujud Nirguna adalah Tuhan
yang tidak dapat digambarkan dengan
kata-kata, tidak bersifat,
serta tidak memiliki
wujud apapun. Tuhan
dalam konsep Nirguna Brahman
dalam Upanisad dinyatakan dengan istilah “netineti” atau
“bukan ini, bukan juga itu”,
sedangkan dalam teks lontar Tattwa Jñāna dinyatakan dalam wujud Parama Śiva
(Anggraini, 2019) . Tuhan
dalam konsep Saguna adalah Tuhan
yang telah mengambil
wujud- wujud tertentu,
dan memiliki sifat-sifat tertentu pula.
Kata-kata
Teologi Hindu sampai saat ini masih sangat asing di telinga umat Hindu termasuk
di telinga para intelektual Hindu. Padahal Teologi Hindu mutlak harus dipahami
oleh setiap umat Hindu. Pembicaraan
tentang Brahmavidya atau ilmu ketuhanan (teologi) bukanlah hal baru dalam
khazanah pengetahuan Hindu.
Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi, dengan kata lain
ilmu terbentuk dari 3 cabang filsafat yakni ontologi, epistemologi dan
aksiologi, jika ketiga cabang tersebut terpenuhi berarti sah dan diakui sebagai
sebuah ilmu. dimana suatu proses pembentukan pengetahuan
yang terus-menerus sampai menjelaskan fenomena yang bersumber dari wahyu, hati
dan semesta sehingga dapat diperiksa atau dikaji secara kritis dengan tujuan
untuk memahami hakikat, landasan dasar dan asal usulnya, sehingga dapat juga
memperoleh hasil yang logis.
Perkembangan
ilmu pengetahuan pada masa ini sangatlah pesat, dimana semua orang dapat
mengkases secara leluasa dan tanpa ada batasannya, sehingga dapat mempermudah
seseorang untuk mencari iformasi terkait apa yang sedang dicarinya.
Teologi
Hindu dalam perspektif Ilmu Pengetahuan,
saat ini, pemahaman khalayak ramai tentang Tuhan masih belum bisa
diterima secara rasional dan belum bisa dibuktikan dengan ilmu Pengetahuan saat
ini. Akan tetapi setiap agama memiliki cara untuk bisa mendekatkan diri dengan
Tuhan melalui ajaran yang sudah di diajarkan oleh setiap agamanya.
Berdasarkan
paparan diatas penulis sangat tertarik untuk menggali lebih dalam terkait
Teologi Hindu dalam Perspektif Ilmu Pengetauhan
B.
Rumusan Masalah
1. Apakah
yang dimaksud dengan Teologi Hindu?
2. Apakah
yang dimaksud dengan Ilmu Pengetahuan?
3. Bagaiamana
Teologi Hindu dalam Perspektif ilmu Pengetahuan?
C. Tujuan
1. Untuk
mendeskripsikan Teologi Hindu.
2. Untuk
mendeskripsikan Ilmu Pengetahuan.
3. Untuk
mengetahui dan mendeskripsikan Teologi Hindu dalam Perspektif ilmu Pengetahuan.
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Teologi
Hindu
Teologi Hindu. Kata teologi
berasal dari kata theos yang artinya ‘Tuhan’ dan ‘logos’ artinya ‘ilmu’ atau ‘pengetahuan’. Jadi teologi berarti
‘pengetahuan tentang Tuhan’.
Ada banyak batasan
atau definisi teologi.
Teologi secara harfiah berarti teori atau studi tentang ‘Tuhan’.
Dalam praktek, istilah
dipakai untuk kumpulan
doktrin dari kelompok
keagamaan tertentu atau pemikiran individu
(Maulana,dkk.,2003: 500).
Donder (2010) Teologi Hindu (Brahmavidya)
dibangun atas dua cabang utama, yaitu Teologi Nirguna Brahman dan
Teologi Saguna Brahman. Kedua cabang teologi tersebut
dikembangkan dalam berbagai derivasi (cabang, turunan) teologis berupaya
memberikan solusi terhadap konflik pemahamn teologis dari semua orang dalam
semua tingkatan umur dan semua tingkatan pengetahuan.
Menyadari keanekaragaman kualitas
pemahaman akibat perbedaan evolusidan level
kecerdasan setiap orang dalam memahami yang transendental, maka para
bijak Hindu secara garis besarnya membuat dua macam teologi. Pertama,
teologi Nirguna Brahman, yaitu teologi yang menjelaskan tentang Tuhan
yang tidak dikaitkan dengan atribut apapun, tidak bisa diasumsikan dengan sifat
apapun dan tidak bisa dibayangkan seperti apapun. Kedua teologi Saguna
Brahman adalah teologi yang menjelaskan tentang Tuhan dengan atribut dan
bermanifestasi sebagai sinar-sinar suci (Dev). Dua macam teologi ini
sesuai dengan peta wilayah kognitif pemahaman teologis manusia yang selanjutnya
dijabarkan ke dalam sub-sub peta wilayah kognisia teologis berdasarkan level
pemahaman teologi setiap orang.
Aryabhatta (dalam Titib, 1996:7 dan
2003:7) menyatakan bahwa Bhagavadgῑtā diwejangkan oleh Sri Krishna saat Bharatayuda
yang jatuh pada tanggal 18 Februari 3102 SM, sehingga Teologi Hindu telah
dibicarakan sejak 5117 tahun yang lalu. Sejak lima ribu tahun lebih Teologi Hindu
telah dibahas dengan cakupan teologi yang sangat luas meliputi bidang
pengetahuan dan kepercayaan yang sangat luas pula meliputi segala macam isme yang
dianut oleh manusia, karena itu pula Brahmavidya dapat disebut sebagai
Teologi Kasih Semesta (Donder, 2006; 2010).
Semua agama menyembah Tuhan Yang Maha
Esa, hanya nama-Nya, metode memahami-Nya, dan cara menyembah- Nya berbeda-beda.
Semua agama mengajarkan hal transendental yang tidakmudah dipahami. Oleh sebab
itu, untuk memahami secara baik dan benar suatuagama membutuhkan panduan
seorang guru yang memiliki pengetahuan yang
mapan tentang
agama.
2. Ilmu Pengetahuan
A. Hakekat Ilmu Pengetahuan
Inggris disebut sebagai science, yang
merupakan serapan dari bahasa latin scientia, yang merupakan turunan dari kata
scire, dan mempunyai arti mengetahui (to know), yang juga berarti belajar (to
learn) (Gie, 2000: 87).
Menurut Endang Saefuddin Anshori (1987:
50) ilmu pengetahuan adalah Usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu
sistem mengenai kenyataan, struktur, bagian-bagian dan hukumhukum tentang
hal-ihwal yang diselidiki (alam, manusia, dan agama) sejauh yang dapat
dijangkau daya pemikiran yang dibantu penginderaan yang kebenarannya diuji
secara empiris, riset dan eksprimen.
Dari pendapat di atas, maka dapat
diambil benang merah bahwa ilmu pengetahuan adalah suatu fakta yang bersifat
empiris atau gagasan rasional yang dibangun oleh individu melalui percobaan dan
pengalaman yang teruji kebenarannya. Dari definisi tersebut diperoleh ciri-ciri
ilmu pengetahuan yaitu; sistematis, objektif, rasional, general, reliabel dan
komunitas. Sistematis mengandung makna ilmu pengetahuan disusun secara
berurutan atau teratur yang memiliki fakta-fakta penting yang saling berkaitan.
Objektif berarti menjelaskan apa adanya sesuai dengan fenomena yang terjadi.
Sementara rasional bermakna bersumber pada pemikiran rasio yang mematuhi
kaidah-kaidah logika. General bermakna kualitas ilmu pengetahuan dapat
merangkum keseluruhan fenomena yang bersifat umum, artinya kebenaran yang
didapatkan dapat diterapkan untuk fenomena yang sama tanpa terikat ruang dan
waktu. Reliabel bermakna dapat diperiksa kebenarannya, diselidiki kembali atau
diuji ulang oleh setiap anggota lainnya dari masyarakat ilmuan. Komunitas,
dapat diterima secara umum, setelah diuji kebenarannya oleh ilmuwan (Gie, 2000:
148-150).
Adapun obyek dalam ilmu pengetahun
terbagi menjadi dua; obyek material dan formal. Obyek material adalah obyek
yang dihadirkan dalam pemikiran atau penelitian; baik yang bersifat materi
(seperti benda-benda) maupun yang non-materi (seperti masalah, konsep,
ide-ide). Sementara, obyek formal berarti dari sudut pandang mana suatu obyek
itu diselidiki (Suhartono, 1997: 39). Misalnya penelitian tentang manusia
ditinjau dari aspek faal tubuhnya; maka obyek materialnya adalah manusia
sementara obyek formalnya adalah aspek susunan tubuhnya.
B.
Sumber Pengetahuan
Menurut Mulyadi Kartanegara (2005:
101-102), sumber ilmu pengetahuan merupakan alat atau sesuatu darimana individu
memperoleh informasi tentang suatu objek. Karena manusia mendapatkan informasi
dari indera dan akal, maka tiga alat itulah yang dianggap sebagai sumber ilmu
pengetahuan. Dengan kata lain, sumber ilmu pengetahuan adalah empirisme
(indera) dan rasionalisme (akal).
a. Empirisme
Empirisme
adalah pengetahuan yang diperoleh dengan perantaraan panca indera. Paham empirisme
berpendirian bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman. John Locke yang
merupakan tokoh dalam teori ini mengemukakan bahwa manusia ibarat kertas putih,
maka pengamalan panca inderawinya yang akan menghiasi jiwa manusia dari
mempunyai pengetahuan yang sederhana hingga menjadi pengetahuan yang kompleks
(Tafsir, 2007: 24). Selain itu, David Hume mengemukakan bahwa manusia sejak
lahir tidak mempunyai pengetahuan sama sekali, pengetahuannya didapatkan
melalui pengideraan. Hasil dari pengamatan melalui inderanya, maka menghasilkan
dua hal; kesan (impression) dan ide (idea).
b. Rasionalisme
Rasionalisme
merupakan kebalikan dari empirisme yang berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak
pada akal. Akal memang membutuhkan bantuan panca indera untuk memperoleh data
dari alamnyata, tetapi hanya akal yang mampu menghubungkan data satu sama
lainnya, sehingga terbentuklah pengetahuan.
3. Teologi Hindu dalam Paradigma Ilmu Pengetahuan
Teologi Hindu (Brahmavidya) merupakan
ilmu yang mempelejari tentang ketuhanan
yang dibagi 2 bagian yakni Nirguna Brahman dan Saguna Brahman. Nirguna Brahma hanya
dapat dikuasai oleh sebagian kecil umat manusia atau hanya dikuasai oleh
orang-orang suci (para rsi, yogi, sufi), yaitu mereka yang
sudah terbebas dari kesadaran fisik atau kesadaran materi. Sedangkan
untuk kebutuhan manusia pada umumnya, maka para bijak menciptakan
pengetahuan tentang Tuhan yang memiliki nama, bentuk, atribut dan berbagai
manifestasi yang spesifik sesuai tujuan pemujaan.
Saguna Brahma ini
bersifat metodologis agar seluruh umat manusia mengalami pencerahan dan
sampai kepada pengetahuan transenden serta dapat mengalami hubungan
dengan Tuhan. Pada wilayah kognitif teologi Saguna Brahma inilah
munculnya ñyasa atau bentuk-bentuk simbol keagamaan dalam bentuk
gambar, patung, wajah dewa, dsb.
Sehingga kehadiran segala bentuk simbol harus dilihat sebagai sarana atau alat yang digunakan untuk mempermudah aplikasi metode pengetahuan tentan Tuhan Saguna Brahama. Jika saja setiap orang atau para penulis buku, pengarang buku, para peneliti, para teolog, dan para ilmuwan memahami hal ini, maka niscaya tidak akan ada kesalahpahaman dan tudingan yang sumir terhadap Hindu (Donder (2010).
Kepercayaan seseorang kepada Tuhan atau
yang bersifat transendensi ditentukan oleh tingkat kematangan pengetahuan
seseorang tentang konsep Tuhan atau transendensi tersebut. Semakin mampu seseorang
berinsteraksi makin mampu seseorang memahami hal yang abstrak.
Terkait
dengan Teologi atau ilmu tentang Tuhan Dalam Ilmu pengetahuan secara
empirisme dan rasioalsisme bentuk dan
wujudnya belum dapat dibuktikan secara nyata sehingga membuat masyarakat awam
menjadi kebingungan untuk menginterprestasikan Tuhan Itu sendiri. Dengan
demikian banyak orang diluar sana yang tidak memiliki banyak bekal yang
diberikan oleh suatu agama yang dianutnya dan memeberikan dampak negatif
terhadap penganutnya itu sendiri.
Setiap penganut agama sangat
penting memahami secarai baik dan benar tentang teologi sebagaimana diajarkan di dalam agama yang dianutnya.
Tidak ada iman yang kokoh tanpa dilandasi oleh pemahaman teologi sesuai dengan agama yang dianutnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Teologi merupakan ilmu tentang Tuhan
yang dimana terdapat Nirguna Brahman yang dimana Tuhan tidak bisa disamakan
oleh apapun, teologi ini hanya untuk orang –orang yang miliki ilmu spiritual yang tinggi seperti para Rsi,
Yogi dan Sufi. Dan Teologi saguna
teologi yang cocok untuk umat manusia pada umumnya. Teologi ini membolehkan
manusia untuk membayangkan Tuhan Yang Tak Terbayangkan. Berdasarkan konsep
Teologi Saguna Brahman inilah kemudian muncul konsep manifestasi Tuhan
dan munculnya simbol-simbol religius untuk membantu manusia dalam mengatasi
kesulitan membayangkan Tuhan.
Teologi Hindu dalam paradigma Ilmu
pengetahuan yang dimana ilmu tentang Tuhan belum dapat dibuktikan secara
empiris maupun rasional.
B. Saran
Hendaknya setiap penganut agama
sangat penting memahami secarai baik dan benar tentang teologi sebagaimana diajarkan di dalam agama yang dianutnya.
Tidak ada iman yang kokoh tanpa dilandasi oleh pemahaman teologi sesuai dengan agama yang dianutnya.
Daftar Pustaka
Anggraini, Putu Maria Ratih. "THE
CONCEPT OF A GODHEAD IN THE 2010.
Anshari,
E. S.. 1987. Ilmu, Filsafat dan Agama. Surabaya: Bina Ilmu Offset. cet.
Vii.
Donder, I Ketut dan I Ketut Wisarja. Mengenal Agama-Agama.
Surabaya: Paramita,
Donder,
I Ketut. Brahmavidya Teologi Kasih Semesta. Surabaya: Paramita, 2006.
Donder, I Ketut. Teologi – Paradigma Sanatana Dharma.
Surabaya: Paramita, 2010.
Gie,
T. L. 2000. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Penerbit Libery. cet.
V.
ISA UPANISHADS." Proceeding International Seminar (ICHECY). Vol. 1.
No. 1. 2019.
Kertanegara,
M. 2005. Integrasi Ilmu Sebuah Rekontruksi Holistik. Jakarta: UIN
Jakarta Press.
Maulana, Achmad,dkk.,2003. Kamus Ilmiah
Populer Lengkap. Yogyakarta; Absolut
Suadnyana, Ida Bagus Putu Eka. "Kajian Nilai Pendidikan Agama Hindu Dalam Konsep Manyama Braya." Jurnal PASUPATI 5.1 (2018):
48-60.
Suhartono,
S. (1997). Filsafat Ilmu Pengetahuan. Makassar: Program Pascasarjana
Universitas Hasanuddin.
Tafsir,
A. (2007). Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi
Pengetahuan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Titib. I
Made. 2011. Teologi Dalam Susastra Hindu
(Bahan Ajar) Denpasar: Institut Hindu
Dharma Negeri Denpasar.
Komentar
Posting Komentar