PERUMUSAN KEBENARAN
ILMIAH DAN POLA KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI
MAHASISWA MALUKU DILINGKUNGAN IAHN GDE PUDJA MATARAM
A.
Latar
Belakang
Gerak
laju perjalanan manusia dalam mencapai kepuasan yang “sempurna” cukup panjang,
pelik, dan berliku-liku. Adapun kepuasan itu sendiri adalah sangat relatif.
Puas bagi seseorang belum tentu puas bagi orang lain. Hal itu disebabkan oleh
karena kepuasan dapat ditinjau dari berbagai sudut, yaitu dapat ditinjau dari
sudut kebendaan dan dari sudut non kebendaan. Sedangkan perbedaannya ada pada
cara memperoleh pemenuhan kepuasan itu. Ada cara pemenuhan kepuasan yang
objektif dan adapula cara yang subjektif, cara yang objektif dipakai dalam ilmu
dan dinamakan dengan cara kerja ilmiah. Artinya, cara kerja yang dilakukan
dengan menggunakan kemampuan berpikir, baik berpikir secara teoritis, mendalam,
dan luas, maupun dengan penelitian yang terencana dan terarah. Meskipun manusia
belum dapat menjamah keseluruhan persoalan hidup dengan cara kerja ilmiah,
usaha dengan cara kerja ilmiah itu sudah membawa perkembangan dan kemajuan yang
pesat bagi ilmu dan teknologi dewasa ini. ( Tim Penyusun, 1990)
Pada
dasarnya terjadinya perkembangan ilmu dan teknologi dengan pesat itu
dikarenakan oleh hasrat/rasa ingin tahu (curiosity)
yang dimiliki oleh manusia dan dapat dinyatakan sebagai “modal” nya yang sangat
berharga. Betapa tidak, dapat pula dibayangkan “bagaimana jadinya” bila manusia
tidak memiliki rasa ingin tahu, ia akan statis, jumud dan tidak akan dapat
berkembang sebagai manusia normal. Dalam kehidupannya dapat dikatakan manusia
penuh dengan “pergumulan” antara munculnya pertanyaan dan pencarian jawaban
atas pertanyaannya itu, betapapun sederhana bentuk dan kualitas pertanyaan itu.
Sehingga secara filosofis para filsuf menyebut manusia sebagai makhluk tukang
tanya-tanya dan itulah bedanya antara – menurut mereka – manusia dengan yang
bukan manusia.
Hasrat
ingin tahu itu, memungkinkan manusia untuk mempergunakan indera dan kemampuan
berpikirnya bagi kepentingan mengenal dan memahami segala sesuatu yang “ada” dan
“yang mungkin ada” dilingkungan sekitarnaya. Persentuhan indera manusia dengan
alam akan menghasilkan pengetahuan-pengalaman. Pengalaman-pengalaman khusus dan
dialami oleh banyak manusia sebagai pengalaman yang sama menjadi pengalaman
yang bersifat umum dan akan berlaku umum pula. Pengalaman umum tersebut tidak
hanya bersifat individual. ( Tim Penyusun, 1990).
Secara
historis dalam analisis Auguste Comte - menurut Koento Wibisono Siswomiharjo –
umat manusia, jiwanya baik secara individual maupun keseluruhan berkembang
menurut hukum tiga tahap, yaitu tahap teologi/fiktif, tahap metafisis/abstrak
dan tahap posotif atau riil. Oleh karena itu, dalam versi Auguste Comte, pada
masyarakat yang sudah maju seperti sekarang ini, sesuatu (jawaban/statemen
ataupun informasi) itu disebut benar sebagai kenyataan ilmiah, apabila ia dapat
digolongkan positif dalam arti bermuatan filsafat, sebagaimana yang jelas,
pasti, kongkrit, akurat dan bermanfaat.5 Nampaknya Auguste comte sangat
menyakini kerangka kebenaran dengan hukum tiga tahapnya itu, dimana ia kemudian
dikenal sebagai bapak aliran filsafat positivisme.
Untuk
memahami, mengolah, dan menghayati dunia beserta isinya, manusia menggunakan
beberapa pendekatan. Pendekatan-pendekatan tersebut adalah filsafat, ilmu
pengetahuan, seni dan agama. Filsafat adalah berusaha untuk memahami atau
mengerti dunia dalam hal makna dan nilai-nilainya. Artinya, filsafat sangat
luas dan mencakup secara keseluruhan sejauh dapat dijangkau oleh pikiran
manusia. Sedangkan filsafat ilmu ialah menyelidiki tentang pengetahuan ilmiah
dan cara-cara untuk memperolehnya. Pengetahuan yang memuaskan, pada gilirannya
akan menjadi pengalaman yang benar, yang kemudian disebut dengan istilah
kebenaran.
Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945 tersebut tercantumkan
bahwa salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah Mencerdaskan kehidupan
bangsa. Terlepas dari hal itu pemerintah Indonesia berupaya melakukan
pemerataan pendidikan untuk tercapainya jenjang pendidikan yang terbaik bagi
seluruh rakyat indonesia, yang dimana memberikan beasiswa kepada siswa-siswi lulusan SMA yang ingin
melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas di dalam maupun di luar negeri.
Seperti halnya mahasiswa yang ada di IAHN Gde Pudja Mataram, dimana mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan berasal dari berbagai daerah di Indonesia diantaranya ada dari Maluku, Sulawesi, Makasar, Bali, Jawa, Lampung, Kalimantan dan sebagainya. Kita dipertemukan untuk bersama-sama mencapai mimpi atau cita-cita yan kita bawa dari rumah, akan tetapi sering terjadi diskriminasi terhadap mahasiswa lain, di kmpus ini mayoritas adalah dari etnis Bali yang sehingga bagi mahasiwa di luar etnis Bali akan merasakan kesusahan dalam berkomunikasi sehari-hari baik antar mahasiswa maupun mahasiswa dengan dosennya.
Hingga saat ini, jumlah putra-putri asli Maluku yang dibiayai melalui program Beasiswa mencapai ribuan orang.
Mereka menempuh pendidikan di hampir seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia dan
salah satunya adalah IAHN Gde Pudja
Mataram. Adanya kerjasama dengan PHDI Provinsi Maluku, serta publikasi yang efektif, citra yang
sangat baik di mata khalayak luas dan
visi-misi yang jelas, membuat IAHN Gde Pudja Mataram diminati para
calon mahasiswa, baik dari dalam dan luar kota maupun luar provinsi. Begitu
pula dengan mahasiswa yang berasal dari Maluku yang akhirnya memilih IAHN Gde Pudja Mataram menjadi tempat menimba ilmu.
Menurut data hasil observasi awal yang
dilakukan peneliti terdapat 20 mahasiswa asal Maluku yang sedang melanjutkan
pendidikannya di IAHN Gde Pudja Mataram, mahasiswa Maluku sebagai bagian dari
makhluk sosial tidak terlepas dari kegiatan komunikasi. Komunikasi
merupakan hal paling mendasar yang wajib dikuasai untuk dapat bertahan hidup
guna berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Mahasiswa maluku sebagai mahasiswa yang berasal dari
daerah yang berbeda yang tentu saja membawa kebudayaan yang berbeda terkhusus
cara berkomunikasi. Perbedaan ini disebabkan latar belakang yang merupakan
hasil dari interaksi maupun budaya serta lingkungan.
Perbedaan
fisik yang mencolok diantara mahasiswa Maluku dengan mahasiswa lainnya di IAHN Gde Pudja Mataram
menjadi pusat perhatian khusus. Mahasiswa Maluku dalam konteks komunikasi yang
memiliki latar belakang budaya yang berbeda tentu sangat diperlukan kecakapan
dalam berkomunikasi, dan kemauan untuk mencoba bergaul dengan orang yang
berlain budaya karena menurut Mulyana (Lusiana 2012:92) di Indonesia seringkali
menggeneralisasikan streotip- streotip kesukuan misalnya, orang Jawa dan Sunda
beranggapan bahwa mereka halus dan sopan dan bahwa orang Batak itu kasar, nekad
dan suka berterusterang, pintar, rajin, kuat dan tegar. Apa yang orang Jawa dan
Sunda anggap kekerasan dan kekasaran, bagi orang Batak adalah justru kejujuran
dan keterusterangan., apa yang dianggap halus dan lembut oleh orang Jawa dan
Sunda bagi orang Batak adalah kemunafikan dan kelemahan.
Begitu
juga dengan mahasiswa Maluku dalam berkomunikasi masih menggunakan Dialek
bahasa daerahnya sehingga sering dianggap tidak fasih dalam berbahasa indonesia
juga, adanya dugaan-dugaan yang cenderung meremehkan terhadap mahasiswa Maluku Ketika
kita berkomunikasi dengan orang lain dari suku agama, ras lain kita dihadapkan
dengan sistem dan aturan yang berbeda, sehingga akan sulit memahami komunikasi
mereka bila kita sangat etnosentrik. Hal ini mengakibatkan terasingkannya
seseorang tanpa tau sisi pribadi orang tersebut. Disisi lain perkembangan
hubungan manusia dewasa.
Ketika
kita berkomunikasi dengan orang lain dari suku agama, ras lain kita dihadapkan
dengan sistem dan aturan yang berbeda, sehingga akan sulit memahami komunikasi
mereka bila kita sangat etnosentrik. Hal ini mengakibatkan terasingkannya
seseorang tanpa tau sisi pribadi orang tersebut. Disisi lain perkembangan
hubungan manusia dewasa .ini memberikan dampak pada cara manusia berkomunikasi.
Hal tersebut disebabkan kedekatan seseorang dengan orang lain bukan hanya
dilihat dari pesan yang disampaikan akan tetapi juga dari proses dan cara
berkomunikasi yang diterapkan pada setiap individu. Adanya proses penyampaian
pesan dari pemberi pesan (komunikator) kepada penerima pesan (komunikan)
disebut dengan komunikasi.
Menurut
Onong (2016:9) istilah komunikasi dalam bahasa Inggris communication berasal
dari kata Latin communicati, dan bersumber dari kata communis yang berarti
sama. Sama yang dimaksud adalah persama makna antara komunikator dengan
komunikan. Persamaan makna yang terjadi antara dua orang dikenal dengan nama
komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi. Komunikasi antar
pribadi menurut Deddy Mulyana (Suranto Aw 2011:3) adalah komunikasi antara
orang-orang yang berlangsung secara tatap muka dan yang memungkinkan setiap
pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung baik secara verbal
maupun nonverbal.
Komunikasi
antar pribadi yang terus berkesinambungan dapat membentuk sebuah pola yang
menjadi proses dalam berkomunikasi beserta komponen lainnya. Pola Komunikasi
diartikan sebagai bentuk atau pola hubungan dua orang atau lebih dalam proses
pengiriman dan penerimaan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat
dipahami. Komunikasi antar pribadi pada hakekatnya mempunyai pola yang
menghubungkan antara komunikator dengan komunikan. Begitu pula dengan proses
komunikasi antara mahasiswa dalam interaksi dilingkungan IAHN Gde Pudja Mataram yang menjadi rutinitas
sehari-hari. Bentuk kebiasaan dari cara berkomunikasi mempunyai dampak bagi
penerima pesan, setiap orang mempunyai pola yang berbeda akan tetapi pola
tersebut dapat dibentuk sesuai dengan arah dan sasarannya.
Berdasarkan
latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk mengkaji terkait Perumusan Kebenaran
Ilmiah Dan Pola Komunikasi Antar Pribadi
Mahasiswa Maluku Dilingkungan IAHN Gde Pudja Mataram.
B.
Fokus
Permasalahan
1. Bagaimana Perumusan Kebenaran
Ilmiah ?
2. Bagiaman
Pola
Komunikasi Antar Pribadi Mahasiswa Maluku Dilingkungan IAHN Gde Pudja Mataram?
C.
Tujuan
Penelitian
1. Untuk
mendeskripsikan
Perumusan Kebenaran Ilmiah
2. Untuk
mengidentifikasi dan mendeskripsikan Pola Komunikasi Antar Pribadi Mahasiswa Maluku Dilingkungan
IAHN Gde Pudja Mataram
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat
Teoretis
Dapat
menjadi salah satu kontribusi akademis dalam mengembangkan keilmuan Perumusan Kebenaran
Ilmiah Dan Pola Komunikasi Antar Pribadi
Mahasiswa Maluku Dilingkungan IAHN Gde Pudja Mataram
dan sebagai referensi bagi peneliti lain dalam mengkaji dan mengembangkan
aspek-aspek kebenaran ilmiah serta komunikasi.
2. Manfaat
Praktis
a. Bagi
Perguruan Tinggi IAHN Gde Pudja Mataram, hasil penelitian ini dapat memberikan
tambahan referensi terkait dengan Perumusan
Kebenaran Ilmiah Dan Pola Komunikasi
Antar Pribadi Mahasiswa Maluku Dilingkungan IAHN Gde Pudja Mataram
b. Bagi Peneliti, penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Perumusan Kebenaran Ilmiah Dan Pola Komunikasi Antar Pribadi Mahasiswa Maluku Dilingkungan IAHN Gde Pudja Mataram.
E.
PEMBAHASAN
1.
Perumusan Kebenaran Ilmiah
Term
“Kebenaran” dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret maupun
abstrak. Dalam bahasa Inggris
“Kebenaran” disebut “truth”, Anglo-Saxon “Treowth” (kesetiaan). Istilah latin
“varitas”, dan Yunani “eletheid”, dipandang sebagai lawan kata “kesalahan”,
“kesesatan”, “kepalsuan”, dan kadang juga “opini”. Dalam bahasa „Arab
“Kebenaran” disebut “al-haq” yang diartikan dengan “naqid al-batil”. Sedangkan
dalam kamus bahasa Indonesia kata “Kebenaran”, menunjukkan kepada keadaan yang
cocok dengan keadaan yang sesungguhnya,
sesuatu yang sungguh-sungguh adanya.
Menurut
Abbas Hamami, jika subyek hendak menuturkan kebenaran artinya adalah proposisi
yang benar. Proposisi maksudnya adalah makna yang dikandung dalam suatu
pernyataan atau statement. Dan, jika subyek menyatakan kebenaran bahwa
proposisi yang diuji itu pasti memiliki kualitas, sifat atau karakteristik,
hubungan dan nilai. Hal yang demikian itu karena kebenaran tidak dapat begitu
saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan dan nilai itu sendiri.
Dengan
adanya berbagai macam katagori sebagaimana tersebut di atas, maka tidaklah
berlebihan jika pada saatnya setiap subjektif yang memiliki pengetahuan akan
memiliki persepsi dan pengertian yang amat berbeda satu dengan yang lainnya. Selanjutnya, setelah
melalui pembicaraan tentang berbagai “model” kerangka kebenaran, Harold H.
Tutis sampai kepada kesimpulan yang terjemahannya kurang lebih sebagai berikut:
“Kebenaran”
adalah kesetiaan putusan-putusan dan ide-ide kita pada fakta pengalaman atau
pada alam sebagaimana apa adanya: akan tetapi sementara kita tidak senantiasa
dapat membandingkan putusan kita itu dengan situasi aktual, maka ujilah putusan
kita itu dengan putusan-putusan lain yang kita percaya sah dan benar, atau kita
ujilah putusan-putusan itu dengan kegunaannya dan dengan akibat-akibat praktis.
Tidak
jauh berbeda dengan apa yang telah disimpulkan oleh Titus di atas mengenai arti
“kebenaran”. Patrick juga mencoba menawarkan alternatif sikap terhadap atau
mengenai “kebenaran” itu dengan menyatakan, yang terjemahnya kurang lebih
sebagai berikut:
Agaknya
pandangan yang terbaik mengenai ini (kebenaran) adalah bahwa kebenaran itu merupakan kesetiaan kepada kenyataan.
Namun sementara dalam beberapa kasus kita tidak dapat membandingkan idea-idea
dan putusan-putusan kita dengan kenyataan, maka yang terbaik yang dapat kita
lakukan adalah melihat jika idea-idea dan putusan- putusan itu konsisten dengan
idea-idea dan putusan-putusan lain, maka kita dapat menerimanya sebagai benar.
FH.
Bradly (1996) penganut faham idealisme
mengatakan bahwa kebenaran ialah kenyataan. Karena kebenaran ialah makna yang
merupakan halnya, dan karena kenyataan ialah juga merupakan halnya. ( Tim
penyusun ). Setelah
membicarakan pengertian kebenaran dari beberapa ahli di atas, maka kebenaran
itu juga tidak terlepas dari 3 (tiga) hal:
Pertama,
kebenaran berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Maksudnya ialah bahwa setiap
pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui sesuatu objek ditilik
dari jenis pengetahuan yang dibangun. Maksudnya pengetahuan itu dapat berupa:
a. Pengetahuan
biasa atau biasa disebut juga dengan Knowledge
of the man in the Street or ordinary knowledge or common sense knowledge.
Pengetahuan seperti ini memiliki inti kebenaran yang sifatnya subjektif, yaitu
amat terikat pada subyek yang mengenal. Dengan demikian, pengetahuan tahap
pertama ini memiliki sifat selalu benar, sejauh sarana untuk memperoleh pengetahuan
bersifat normal atau tidak ada penyimpangan.
b. Pengetahuan
ilmiah, yakni pengetahuan yang telah menetapkan objek yang khas dengan
menerapkan metodologis yang khas pula, yaitu metodologi yang telah mendapatkan
kesepakatan di antara para ahli yang sejenis. Kebenaran yang terkandung dalam
pengetahuan ilmiah bersifat relatif, maksudnya, kandungan kebenaran dari jenis
pengetahuan ilmiah selalu mendapatkan revisi yaitu selalu diperkaya oleh hasil
penemuan yang paling mutakhir. Dengan demikian kebenaran dalam pengetahuan
ilmiah selalu mengalami pembaharuan sesuai dengan hasil penelitian yang paling
akhir dan mendapatkan persetujuan dan agreement dari para ilmuan sejenis.
c. Pengetahuan
filsafati, yakni jenis pengetahuan yang pendekatannya melalui metodologi pemikiran
filsafati, yang sifatnya mendasar dan menyentuh, yaitu dengan model pemikiran
analitis, kritis, dan spekulatif. Sifat kebenaran yang terkandung di dalam
pengetahuan model ini adalah absolut-intersubjektif. Artinya, nilai kebenaran
yang terkandung didalamnya selalu merupakan pendapat yang selalu melekat pada
pandangan filsafat dari seseorang pemikir filsafat itu serta selalu mendapat
kebenaran dari filsuf yang menggunakan metodologi pemikiran yang sama pula.
Jika pendapat filsafat itu didekati dengan pendekatan filsafat yang lain, maka
dapat dipastikan hasilnya akan berbeda pula bahkan bertentangan atau
menghilangkan sama sekali, seperti filsafat matematika atau geometridari
Phytagoras sampai sekarang ini masih tetap seperti waktu Phytagoras pertama sekali
memunculkan pendapat tersebut, yaitu pada abad ke-6 sebelum Masehi.
d. Kebenaran
jenis pengetahuan keempat yaitu: Pengetahuan Agama. Pengetahuan jenis ini
memiliki sifat dogmatis, yakni pernyataan dalam suatu agama selalu dihampiri
oleh keyakinan yang telah ditentukan, sehingga pernyataan-pernyataan dalam
ayat-ayat kitab suci agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan
yang digunakan untuk memahaminya itu. Implikasi makna dari kandungan kitab suci
itu dapat berkembang secara dinamik sesuai dengan perkembangan zaman, akan
tetapi kandungan maksud dari kitab suci itu tidak dapat dirubah dan sifatnya
absolut.
Kedua,
kebenaran yang dikaitkan dengan sifat/karakteristik dari bagaimana cara atau
dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuan itu. Apakah ia membangunnya
dengan cara penginderaan atau sense experience, ratio, intuisi atau keyakinan.
Implikasi dari penggunaan alat untuk memperoleh pengetahuan melalui alat
tertentu akan mengakibatkan karakteristik kebenaran yang dikandung oleh
pengetahuan itu, akan memiliki cara tertentu untuk membuktikannya, artinya jika
seseorang membangunnya melalui indera atau sense experience, maka pada saat itu
ia membuktikan kebenaran pengetahuan itu harus melalui indera pula. Demikian
juga dengan cara yang lain, seseorang tidak dapat membuktikan kandungan
kebenaran yang dibangun oleh cara intuitif, kemudian dibuktikannya dengan cara
lain yaitu cara inderawi misalnya.
Jenis
pengetahuan menurut kriteria karakteristiknya dapat dibedakan dalam jenis
pengetahuan: (1) inderawi; (2) pengetahuan akal budi; (3) pengetahuan intuitif;
(4) pengetahuan kepercayaan atau otoritatif; dan pengetahuan-pengetahuan yang
lainnya. Implikasi nilai kebenarannya juga sesuai dengan jenis pengetahuan itu.
Ketiga,
kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan
itu. Artinya bagaimana relasi antara subjek dan objek, manakah yang lebih
dominan untuk membangun pengetahuan itu. Jika subjek yang lebih berperan, maka
jenis pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran yang sifatnya subjektif,
artinya nilai kebenaran dari pengetahuan yang dikandungannya itu amat
tergantung pada subjek yang memiliki pengetahuan itu. Atau, jika; jika objek
amat berperan, maka sifatnya objektif, seperti pengetahuan tentang alam atau
ilmu-ilmu alam.
1.
Pola Komunikasi Antar
Pribadi Mahasiswa Maluku Dilingkungan IAHN Gde Pudja Mataram?
Dari
pengamatan yang dilakukan, penulis memfokuskan pembahasan pada 2 (dua) pola
komunikasi yang sering digunakan oleh mahasiswa Maluku di lingkungan IAHN Gde
Pudja Mataram, yaitu komunikasi verbal (bahasa) dan nonverbal (kinesics,
paralanguage dan proxemics).
Komunikasi Secara Verbal Mahasiswa Maluku dalam
lingkungan IAHN Gde Pudja Mataram.
Dari
banyak faktor kebudayaan yang mempengaruhi komunikasi mahasiswa Maluku dengan
mahasiswa lokal di IAHN Gde Pudja Mataram, salah satunya adalah bahasa.
Kurangnya kemampuan mahasiswa Maluku dalam berbahasa Indonesia yang baik,
dimana mereka masih cukup kuat dalam membawa bahasa daerah mereka maka dari itu
dialek bahasa mereka ketika berkomunikasi sedikit sulit untuk dipahami.
Permasalahan lain muncul ketika mahasiswa lain di IAHN Gde Pudja Mataram lebih
sering menggunakan bahasa lisan informal, sedangkan yang mereka pelajari adalah
bahasa Indonesia tulis dan formal. Selain bahasa informal, tempo bicara
mahasiswa lokal dinilai terlalu cepat. Eksistensi bahasa Bali diakui sedikit
mengganggu proses adaptasi. Perbedaan bahasa dan dialek yang digunakan oleh mahasiswa Maluku, menjadi
suatu hambatan ketika melakukan proses komunikasi dengan mahasiswa non-Maluku yang
menggunakan bahasa dan dialek
Bali. Perbedaan bahasa yang membentang membuat mahasiswa Maluku sulit menjalin
komunikasi yang akhirnya membuat mereka menutup diri.
Sebelum datang ke Nusa Tenggara Barat informan merupakan lulusan SMU dari provinsi Maluku yang sama sekali tidak pernah mengetahui IAHN Gde Pudja Mataram. Hal tersebut membuat mereka cukup kesulitan saat pertama kali tiba di Provinsi Nusa Tenggara Barat, khususnya di Kota Mataram, yaitu kota yang akan mereka tinggali selama menempuh pendidikan di IAHN Gde Pudja Mataram yang mayoritas penduduknya lebih banyak menggunakan dialek dan bahasa Bali dan Sasak untuk kesehariannya. Hal tersebut melatar belakangi penggunaan bahasa verbal dan sekaligus bahasa nonverbal oleh mahasiswa asal Maluku untuk dapat berkomunikasi dengan mahasiswa lokal saat awal mereka tiba di Mataram.
Tidak
bisa dipungkiri, kebiasaan mahasiswa lebih sering menggunakan bahasa lisan dan
informal (bahasa Sasak dan Bali) membuat beberapa dari mereka malas
berkomunikasi, Motivasi
diri, pergaulan dan proses komunikasi antar budaya dengan teman, penduduk
lokal, membuat kendala bahasa lambat laun bisa diatasi. Sedikit demi sedikit
mereka mulai mengerti ungkapan dalam bahasa Sasak maupun Bali. Proses
komunikasi yang sering dilakukan membuat kendala dalam berbahasa dapat diatasi.
Komunikasi
Secara Non Verbal Mahasiswa Maluku dalam lingkungan IAHN Gde Pudja Mataram.
Proses
komunikasi tidak selalu disampaikan dengan komunikasi verbal saja, tetapi ada
komunikasi yang disampaikan juga bersamaan dengan komunikasi non verbal.
Komunikasi nonverbal dapat mempertegas pesan yang disampaikan secara verbal.
Secara garis besar bahwa komunikasi non verbal terbagi menjadi tiga yakni
kinesik, proksemik, dan paralinguistik.
Komunikasi
non verbal yang digunakan oleh mahasiswa Maluku ketika melakukan proses komunikasi ialah
menunduk yang bermakna malu atau minder, tidak percaya diri, terlihat gelisah, menggoyang-goyangkan kaki,
tangan, jarang sekali menatap mata lawan bicara dan lain sebagainya. Hal ini
didapat ketika peneliti melakukan wawancara mendalam dengan para informan.
Selain itu volume mereka berbicara sangat pelan dan tidak lantang, lain halnya
ketika wawancara volume suara cukup tinggi sehingga pesan yang disampaikan
cukup jelas. Jadi ketika mereka berkomunikasi tatap-muka mereka lebih memilih
untuk tidak menatap mata lawan bicara mereka, menggoyang- goyangkan kaki, dan
bertingkah laku seperti layaknya seseorang yang sedang gelisah dan terancam.
Komunikasi antar pribadi merupakan salah satu upaya yang diterapkan mahasiswa Maluku dalam menjalin komunikasi dengan mahasiswa lainnya di IAHN Gde Pudja Mataram. Agar terjadi komunikasi yang efektif diperlukan keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan. Jika dikaikan dengan aspek-aspek komunikasi antar pribadi maka komunikasi antar pribadi mahasiswa Maluku berperan dalam menjalin keakraban dengan mahasiswa Lombok. Berikut unsur dalam komunikasi antar pribadi menurut Devito dalam perspektif humanistik.
1. Keterbukaan
(Openness)
Menurut
Devito Sikap terbuka mendorong timbulnya pengertian, saling menghargai,dan
saling mengembangkan hubungan antarpribadi. Kualitas keterbukaan mengacu pada
tiga aspek dari komunikasi interpersonal, yaitu komunikasi yang efektif harus
terbuka kepada orang yang diajak berinteraksi, kedua adanya kesediaan untuk
bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang, dan yang ketiga menyangkut
adanya kepemilikan perasaan dan pikiran. Sikap keterbukaan ini berdasarkan
hasil penelitian yang dilakukan, mahasiswa Papua cenderung terbuka apabila
sudah merasa dekat dengan lawan bicaranya. Mereka berbagi cerita dengan
mahasiswa yang dianggap dekat, ketika ada masalah keuangan, kendala dalam
menyelesaikan tugas kuliah. Namun keterbukaan mahasiswa Maluku belum sepenuhnya
dilakukan hal ini diakibatkan adanya kekhawatiran akan dianggap remeh karena
perbedaan intelektual, fisik dan bawaan mereka yang berbeda dan lain
sebagainya. selain itu mahasiswa Papua kurang menggunakan bahasa dengan baik,
mereka pun otomatis tidak dapat menyampaikan apa yang mereka rasa, mau dan
ingin. Dan hanya dengan sesama merekalah, mahasiswa Maluku dapat saling
mengerti dan mencurahkan apa yang ingin mereka katakan.
2. Empati
Empati
merupakan kemampuan seseorang untuk merasakan seandainya menjadi orang lain,
dapat memahami sesuatu yang sedang dialami orang lain, merasakan apa yang
dirasakan orang lain dan memahami sesuatu dari sudut pandang orang lain. Dalam
penelitian ini mahasiswa Maluku selalu menunjukan sikap empati kepada teman
perkuliahannya, apabila ada teman yang
mengeluh, sedang kesulitan
mereka miliki sikap yang mau mendengar, menerima keluhan, kemudian dapat
mengerti serta merasakan apa yang juga dirasakan oleh teman yang sedang
berkeluh kesah. Mereka berusaha menunjukan sikap perhatian terhadap setiap
permasalahan yang dialami oleh temannya bahkan mereka mau memberi bantuan pinjaman
kepada teman yang sedang kesulitan dalam ekonomi.
3.
Sikap Mendukung
Hubungan antar
pribadi yang efektif harus memiliki komitmen dan sikap untuk mendukung
(supportiveness). Berdasarkan hasil penelitian diketahui sikap dari mahasiswa
Maluku jarang sekali memberi dukungan terhadap kegiatan- kegiatan yang
dilaksanakan kampus, Sebagian mereka hanya sekedar mengikuti, jarang sekali
untuk terlibat dalam pelaksanaan. Alasan tidak tergabung adalah malas, ketidak
nyamanan.
Hal
ini berkaitan dengan dominasi dimana salah satu pihak berusaha mengendalikan
pihak lain sehingga orang tersebut merasakan hak-haknya dilanggar. Salah satu
pihak berada pada posisi selalu menang, sementara pihak lain
selalu kalah. Salah satu
pihak selalu mengatur, sementara pihak lain selalu
tunduk. Ketika seseorang merasa tidak kuat pada posisi selalu kalah,
didikte dan diatur, maka akan timbul keberanian pada
dirinya untuk mengambil sikap yang realistis, yakni memutuskan hubungan.
4. Sikap
Positif
Devito
mengatakan sikap positif ditunjukan dalam bentuk sikap dan perilaku. Dalam
bentuk-bentuk sikap, maksudnya adalah bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam
komunikasi interpersonal harus memiliki perasaan dan pikiran positif, bukan
prasangka dan curiga. Dalam penelitian ini mahasiswa Maluku cenderung mudah
tersinggung, namun tersinggung masih dalam hal wajar, ini dikarenakan cara
mahasiswa di IAHN Gde Pudja yang sering mengikuti bahasa dan logat Maluku,
respon ketika Mahasiswa papua berbicara sering ditertawai oleh mahasiswa.
Selain itu beberapa perlakuan maupun perkataan yang tampak menyakitkan didengar
mahasiswa seperti perkataan yang menyinggung fisik seperti rambut keriting
maupun kulit hitam, sering sekali membuat mereka tersinggung karena merasa
seolah-olah dihina.
5. Kesetaraan
Kesetaraan
berarti kita menerima pihak lain, kesetaraan meliputi penempatan diri setara
dengan orang lain, menyadari akan adanya kepentingan yang berbeda, mengakui
pentingnya kehadiran orang lain, tidak memaksakan kehendak, kemunikasi dua
arah, saling memerlukan, serta suasana komunikasi akrab dan nyaman. Dalam suatu
hubungan antarpribadi yang ditandai oleh kesetaraan, ketidak sependapatan dan
konflik lebih dilihat sebagai upaya untuk memahami perbedaan yang pasti ada
daripada hanya sebagai kesempatan untuk menjatuhkan pihak lain. Dalam
penelitian ini mahasiswa Maluku sering menganggap dirinya tidak setara dengan
mahasiswa lainnya, terlebih dari segi akdemik mereka sering minder, takut tidak
bisa bersaing. Mereka sering merasa tidak percaya diri untuk berbicara karena
khawatir apa yang disampaikan tidak dipahami oleh lawan bicaranya.
Dari
hasil-hasil yang telah dipaparkan diatas, Perumusan Kebenaran Ilmiah Dan Pola Komunikasi Antar Pribadi Mahasiswa
Maluku Dilingkungan IAHN Gde Pudja Mataram ialah pola komunikasi primer, yakni
suatu proses penyampaian pikiran oleh komunikator kepada komunikan dengan
menggunakan suatu lambang, yakni verbal atau bahasa yang paling sering
digunakan karena mampu mengungkapkan pikiran seseorang, dan lambang non verbal
yakni lambang yang digunakan dalam berkomunikasi yang bukan menggunakan bahasa
melainkan isyarat dengan anggota tubuh. Dalam aspek-aspek efektifitas
komunikasi antar pribadi dari sudut perspektif
humanistik yaitu keterbukaan,
empati, sikap mendukung, sikap postif, dan kesetaraan mahasiswa Maluku belum
sepenuhnya menerapkan aspek-aspek tersebut dalam komunikasi interpersonalnya
dengan mahasiswa lainnya di IAHN Gde Pudja Mataram. Sikap empati yang mereka
terapkan tidak sepenuhnya menciptakan hubungan antar pribadi yang efektif
dengan kata lain jarang sekali ada kedekatan antara mahasiswa Maluku dengan Mahasiswa IAHN Gde Pudja .
Sehingga tujuan dari komunikasi antar pribadi belum sepenuhnya tercapai.
F.
PENUTUP
G.
SIMPULAN
1. Bahwa
kebenaran – dalam studi ilmiah – dapat dipandang beragam, yaitu; (1) Kebenaran
yang berkaitan dengan kualitas pengetahuan, kebenaran ini bersifat subjektis,
relatif, absolut-intersubjektif dan kebenaran yang bersifat dogmatif/absolut,
(2) Kebenaran yang dikaitkan dengan sifat sifat/karakteristik dari berbagai
cara atau dengan cara penginderaan atau ratio, intuisi atau dengan keyakinan.
Kebenaran ini harus dibuktikan sesuai dengan syarat-syarat yang telah
ditentukan tadi yaitu apabila seseorang membangunnya melalui indera, maka ia
membuktikan kebenaran itu harus melalui indera pula, tidak bisa dengan yang
lainnya, (3) Kebenaran yang dikaitkan atas ketergantungan, artinya nilai
kebenaran itu amat tergantung pada subyek dan obyek yang memiliki pengetahuan
itu. Maka filsafat ilmu sebagai refleksi filsafat yang tidak pernah berhenti
mencari dan menemukan kebenaran ilmu, sangat penting dijadikan sebagai landasan
untuk memperoleh kebenaran dalam ilmu.
2. Komunikasi
antarpribadi yang digunakan oleh mahasiswa Maluku kurang efektif. Hal ini
disebabkan oleh adanya gangguan yang menghambat proses komunikasi baik itu
komunikasi verbal maupun komunikasi nonverbal.
3. Efektivitas
komunikasi antarpribadi mahasiswa Maluku yang dapat dilihat dari kriteria
efektivitas komunikasi antarpribadi berdasarkan kelima aspek humanistik yang diterapkan
mahasiswa Maluku dengan Mahasiswa Lombok tidak mampu dilakukan dengan kurang baik.
H.
SARAN/REKOMENDASI
Berdasarkan
penelitian dan hasil analisis yang telah dilakukan peneliti ada beberapa hal
yang harus diperhatikan sebagai masukan dan saran:
1. Mahasiswa
Maluku harus pandai dalam menyiasati perbedaan bahasa dan dialek, karena dengan
begitu mereka dapat dengan mudah melakukan proses komunikasi dengan mahasiswa Lombok. Sekalipun dengan menggunakan
bahasa Indonesia yang baku agar kedua belah pihak mengerti dan mendapat satu
pengertian bersama.
2. Mahasiswa
Maluku harus dapat menyesuaikan diri dalam komunikasi non verbal seperti volume
suara, kecepatan,gerak tubuh, mimik harus diubah menjadi lebih baik lagi agar
komunikasi antar pribadi lebih efektif
3. Mahasiswa
Maluku harus lebih terbuka, empati, selalu mendukung, selalu bersikap positif,
bersikap setara dan percaya diri ketika berkomunikasi dengan mahasiswa lainnya
di IAHN Gde Pudja Mataram sehingga
hubungan antar pribadi berjalan efektif.
4. Pentingnya
saling memahami, mempelajari, dan menerima keunikan karakteristik dari
tiap-tiap etnis dalam menambah wawasan serta menghindari timbulnya prasangka.
Daftar Pustaka
Arti kebenaran dalam Bahasa Arab tersebut dapat
dilihat pada Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, 15 Jilid, (Beirut: Daar Shaadir,
1412/1992), Jilid 10, P. 49-58
Aw, Suranto.
2011. Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta, Graha Ilmu. Budyatna
Beerling, Kwee,
Mooij, Van Peursen. Inleidingfor de Wetenscbapsleer, alih bahasa Soejono
DeVito, Joseph
A. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta, Profesional Books
Efendi, Onong Uchajana. 2009. Ilmu Komunikasi, Teori
dan Praktek. Bandung, PT.Remaja Rosdakarya.
G.T.W. Patrick,
1958.Introduction to philosophy, London Hal. 375
Harold H. Titus, Living Issue in Philosophy:
Introductory Text Book, (New York: D. Van Nostrand Company 1959), P. 70
Koento Wibisono Siswomiharjo, 1996. Arti
perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte, Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press Hal 10-21
Lorens Bagus,
1996. Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia P. 412
Louis O. Kattsoff. 1996. Element of Phylosophy, alih
bahasa Soejono Soemargono dengan judul “Pengantar Filsafat”, Yogyakarta: Tiara
Wacana Hal. 17
Mulyana, Deddy.
2001, Ilmu Komunikas Suatu Pengantar. Bandung, PT.Remaja Rosdakarya.
Soemargono, 1990
.“Pengantar Filsafat Ilmu”, Yogyakarta: Tiara Wacana.
Tim Abbas
Hamami, dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu Fak. Filsafat UGM, op.cit., P. 112
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM,
Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta,1996
Tim Pengembangan Filsafat Ilmu IKIP Semarang, 1990.
Filsafat Ilmu, Semarang IKIP: Semarang
Press,
Tim Penyusun
Kamus PPPB, Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka,
1994), P. 114
Komentar
Posting Komentar