ETIKA MENURUT PANDANGAN AGAMA HINDU

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Agama memliki peran penting terhadap umat manusia, karena didalam setiap agama yang kita ikuti atau percaya selalu mengajarkan tentang baik dan buruk, perintah dan larangan bagi umatnya agar  menjalankan ajaran yang baik dan tidak melakukan ajaran yang tidak baik dan lain-lain. Dalam hal ini, umat manusia selalu melakukan interaksi antara yang satu dengan yang lain, baik dilingkungan keluarga, lingkungan pendidikan serta lingkungan  masyarakat sekitar.

Dewasa ini pentingnya pendidikan agama terhadap generasi muda guna nantinya dapat menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam Agama Hindu disebut Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang memliki etika, moral dan budi pekerti yang baik.

Dalam ajaran Agama  Hindu memiliki tiga kerangka dasar umat hindu diantaranya a. Tattwa atau filsafat; b. Susila atau etika dan c. Upacara atau ritual yang dimana ketiga ini saling berkaitan satu sama lain. akan tetapi penulis akan akan mengkaji lebih mendalam yakni susila atau etika yang dizaman sekarang sudah mulai berkurang, perubahan etika atau tata susila ini memberikan dampak negatif. oleh karena itu, hendakya generasi muda mewujudkan nilai-nilai luhur yang sudah diwariskan oleh leluhur untuk hidup harmonis.

B.  Rumusan Masalah

1.    Bagaimana Etika Dalam Pandangan Agama Hindu?

2.    Bagaimana Kedudukan Etika Dalam Pandangan Agama Hindu?

3.    Apakah Fungsi Etika Dalam Pandangan Agama Hindu?

4.    Apakah Manfaat Etika Dalam Pandangan Agama Hindu?

C.  Manfaat

1.    Untuk mendeskripsikan Etika Dalam Pandangan Agama Hindu.

2.    Untuk mengetahui Kedudukan Etika Dalam Pandangan Agama Hindu.

3.    Untuk mengetahui Fungsi Etika Dalam Pandangan Agama Hindu.

4.    Untuk mengetahui Manfaat Etika Dalam Pandangan Agama Hindu.

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Pengertian Susila atau Etika

Etika yang memiliki arti diantara tata krama, prilaku, sikap, karakter, sopan santun. yang dimana pada zaman dahulu etika merupakan filsafat moral. Etika lalu diartikan sebagai ilmu tenang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan atau sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak atau moral.

Makna kata etika yang berasal dari bahasa Yunani ethos, dalam tiga pengertian, yaitu, ilmu tentang apa yang baik dan buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak), kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, atau nilai mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat. Bentuk jamak dari kata “ethos” adalah “ta etha” yang berarti adat kebiasaan. Sedangkan moralitas dengan kata asal moral yang memiliki pengertian sama dengan etika berasal dari bahasa Latin “mos” (jamaknya “mores”) yang berarti kebiasaan atau adat. Jadi pengertiaannya sama dengan “ta etha” atau ethos yaitu adat kebiasaan. Dengan latar belakang pengertian yang sama seperti itu, maka sudah zaman dahulu etika dipakai untuk menunjukakan filsafat moral. Etika lalu diartikan sebagai ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan atau sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak atau moral. Moralitas atau susila adalah ilmu tentang perilaku. Susila adalah pelajaran dari apa yang benar atau baik dalam prilaku. Ilmu susila menunjukkan jalan bagi manusia agar berkelakuan baik terhadap satu sama lain, demikian juga terhadap ciptaan Tuhan yang lain. Susila mengandung prinsip-prinsip sistematis bagaimana seseorang seharusnya bertindak. Susila adalah prilaku yang benar atau disebut juga sadacara. (Sivananda,2003:64).

B.Etika Dalam Pandangan Agama Hindu

Agama Hindu memiliki kerangka dasar yang dapat dipergunakan oleh umatnya sebagai landasan untuk memahami, mengalami dan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Kerangka dasar tersebut terdiri atas tiga unsur, yaitu:

1. Tattwa atau filsafat Agama Hindu,

2. Susila atau Etika, dan

3. Acara atau Ritual Agama Hindu Untuk dapat memahami, mengalami dan mengamalkan ajaran Agama Hindu secara utuh dalam hidup dan kehidupan sehari-hari maka setiap umat Hindu memiliki kewajiban menjadikan kerangka dasar sebagai pedoman. dengan demikian mereka dapat mewujudkan hidup dan kehidupan ini menjadi sejahtera dan bahagia. (Sudirga, 2007:36)
Susila dalam Agama Hindu merupakan kerangka dasar yang kedua. Susila berasal dari kosa kata bahasa Sanskerta yang artinya tingkah laku yang baik atau menunjukkan kebaikan. Dalam Wrhaspati Tattwa 26 dinyatakan sebagai berikut: “Sila ngaranya angraksa acara rahayu”. (Wrhaspati Tattwa.26)

Artinya :

Kata susila mengandung pengertian perbuatan baik atau tingkah laku yang baik.Susila adalah istilah lain dari kata etika dan moral. Etika dan moral merupakan dua kata yang dipergunakan silih berganti untuk maksud yang sama. Berdasarkan uraian di atas dapat kita pahami bahwa etika merupakan ajaran perilaku atau perbuatan yang bersifat sistematis tentang perilaku (karma). Ajaran susila hendaknya diterapkan dalam kehidupan kita di dunia ini karena dunia inilah tempat kita berkarma. Pembenahan diri sendiri merupakan prioritas utama di samping pembenahan diri dalam hubungannya dengan orang lain. Kelahiran ini merupakan tangga untuk naik ke surga. Oleh karena itu, kesempatan ini kita abdikan untuk meningkatkan diri dalam kebajikan agar tidak jatuh ke neraka.

Untuk dapat meningkatkan diri, manusia harus mampu meningkatkan sifat-sifat baik dan mulia yang ada pada dirinya. Pada dasarnya dalam diri manusia ada dua kecenderungan, yaitu kecenderungan berbuat baik dan kecenderungan berbuat buruk. Sri Kresna dalam Kitab Bhagawadgita telah membagi kecenderungan budi manusia atas dua bagian yaitu:

 Daiwi Sampad, yaitu sifat-sifat kedewaan 2. Asuri Sampad, yaitu sifat-sifat keraksasaan. Daiwi Sampad bermaksud menuntun perasaan manusia ke arah keselarasan antar sesama manusia. Sifat-sifat ini perlu dibina, seperti diungkapkan dalam kitab Bhagavadgita XVI, syair 1, 3, dan 5 yang berbunyi sebagai berikut:

“Abhayam sattwassamocuddhir jnanayogawyasvathitih danamdama ca yadnas ca swadhyayastapa arjawam” (Bhagavadgita XVI. 1)  

Artinya : Tidak mengenal takut, berjiwa murni, bergiat untuk mencapai kebijaksanaan dan yoga, berderma, menguasai indriya, berkorban, mempelajari ajaran-ajaran kitab suci, taat berpantang dan jujur.

Tejah ksama dhrtih saucam adhro na ‘timanitabhawanti sampadam daiwim abhijatasya bharata” (Bhagavadgita XVI. 3)

 Artinya : Kuat, suka memaafkan, ketawakalan, kesucian, tidak membenci, bebas rasa keombongan, ini tergolong pada orang yang lahir dengan sifat_sifat dewata, oh Arjuna.

Daiwi Sampad wimoksaya nibandaya suri mata ma sucah sampadan daiwin abhijato si pandawa” (Bhagavadgita XVI. 5)

Artinya : Kelahiran yang bersifat Ketuhanan dikatakan memimpin ke arah moksa dan yang bersifat setan ke arah ikatan. Jangan bersedih hati, oh Pandawa (Arjuna), engkau dilahirkan dengan sifat-sifat dewata. Demikianlah, beberapa sloka dalam kitab Bhagavadgita yang menjelaskan dan menuntun kita untuk meniru sifat-sifat dewa (sifat-sifat yang baik). Kemudian, mengenal sifat-sifat Asuri Sampad (sifat-sifat yang buruk)

yang harus kita hindari dijelaskan dalam kitab Bhagavadgita XVI, 4 yang berbunyi sebagai berikut:

 “Tambho darpo bhimanas krodnah parusyam eva caajnanam cabhijatasya parta sampadam asurim “(Bhagavadgita, XVI, 4)

Artinya : Berpura-pura, angkuh, membanggakan diri, marah, kasar, bodoh, semuanya ini adalah tergolong yang dilahirkan dengan sifat-sifat raksasa (Asuri Sampad),

Daiwi Sampad dan Asuri Sampad pada manusia tersebut ada yang timbul karna faktor luar dan ada pula faktor dari dalam diri sendiri serta ada pula dari kedua faktor tersebut. Pengertian tentang susila dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.   Susila atau etika adalah upaya mencari kebenaran. Sebagai filsafat ia mencari informasi yang sedalam-dalamnya secara sistematis tentang kebenaran yang bersifat absolut maupun relatif.

2.   Susila atau etika adalah upaya untuk mengadakan penyelidikan atau mengkaji kebaikan manusia, sebagai manusia bagaimana seharusnya hidup dan bertindak di dunia ini agar hidup menjadi bermakna.

3.   Susila atau etika merupakan upaya (karma) manusia mempergunakan keterampilan fisiknya (angga/raga) dan kecerdasan rohani (suksma sarira). Suksma sarira manusia terdiri atas pikiran (manas), kecerdasan (buddhi), dan kesadaran murni (atman) yang dapat berfungsi sebagai sarana untuk memecahkan berbagai masalah tentang bagaimana manusia hidup dan berbuat baik (suputra).

Kitab Sarasamuscaya 2 menyebutkan sebagai berikut:

Manusah sarvabhutesu varttate vai subhasubhe, asubhesu samavistam subhesveva varakayet. Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wwangjuga wenanggumawaya-kenikang subha-subhakarma, kuneng paneentasakena ring subhakarma juga ikang asubhakarma phalaning dadi wwang”

Artinya:
Dari sedemikian banyaknya semua makhluk yang hidup, yang dilahirkan sebagai manusia itu saja yang dapat berbuat perbuatan baik-buruk itu, adapun untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan baik juga manfaatnya menjadi manusia. Demikianlah manfaat hidup menjadi manusia sebagaimana disebutkan dalam kitab suci Veda, manusia hendaknya selalu mengupayakan perilaku yang baik terhadap sesamanya. Memperlakukan orang lain dengan baik sesungguhnya adalah sama dengan memperlakukan diri sendiri yang baik (Tat Tvam Asi). Perilaku seperti itu selamanya patut diupayakan dan dilestarikan dalam setiap tindakan kita sebagai manusia. Setiap individu hendaknya selalu berpikir dan bersikap profesional menurut guna dan karma.

Tata susila atau Etika Hindu sangat halus, luhur dan mendalam. Semua agama memiliki semboyan-semboyan dalam ajaran susila, seperti : “Jangan membunuh, jangan merugikan orang lain, sayangiah tetanggamu seperti dirimu sendiri”, tetapi mereka tidak memberi alasan. Dasar dari tata susila Hindu adalah : “Ada satu Atman yang meresapi segalanya. Ia merupakan roh terdalam dari semua makhluk, yang merupakan kesadaran murni umum. Bila kamu merugikan tetanggamu, sebenarnya kamu merugikan dirimu sendiri” (Sivananda, 2003:67). Inilah tata susila Hindu, yang merupakan dasar kebenaran metafisik yang mendasari seluruh kode etik Hindu. Atman atau sang diri adalah satu. Satu kehidupan bergetar dalam semua makhluk. Kehidupan lazim dalam binatang, burung-burung, makhluk manusia, karena keberadaan adalah lazim.

 Ini merupakan pernyataan yang tegas dari Upanisad atau Sruti. Kebenaran utama dari agama merupakan pondasi dari etika atau moralitas atau ilmu prilaku yang benar. Moralitas mengambil Wedanta sebagai dasarnya. Hal pertama yang kita pelajari dari agama adalah kesatuan dari semua diri. Upanisad menyatakan: “Tetangga sebenarnya adalah sang diri itu sendiri dan apa yang memisahkanmu dari padanya hanyalah khayalan semata”. Atman yang satu atau sang diri bersemayam dengan semua makhluk. Kasih sayang universal merupakan pernyataan dari kesatuan. Persaudaraan universal berdasarkan kesatuan diri. Semua hubungan kemanusiaan ada karena peratuan ini. Yajnawalkya berkata kepada istrinya Maitreyi: “Perhatikanlah sayangku, tidak benarlah kasih sayang dari suami adalah suami sayang, karena kasih sayang sang dirilah yang merupakan suami tersayang”. Demikian pula dengan istri, anak-anak, kekayaan, kawan-kawan, dunia bahkan para dewa itu sendiri.bila kamu menolong oranglain, kamu menolong dirimu sendiri. Ada satu kehidupan, satu kesadaran umum dalam semua mahkluk. Ini merupakan dasar dan prilaku yang baik. Inilah pondasi dari susila.

Susila Hindu sangatlah indahnya. Hinduisme sangat menekankan pada disiplin tata susila. Yama (pengendalian diri), dan Niyama (pengendalian rohani) merupakan pondasi dari Yoga dan Wedanta. Orang-orang yang belum berkembang tak dapat memikirkan dirinya sendiri. Oleh karena itu aturan-aturan tata susila telah ditetapkan oleh para bijak agung atau pengamat seperti Manu dan Yajnawalkya. (Sivananda, 2003:66). Sri Krsna dalam Bhagawadgita bersabda : ”Biarlah kitab suci menjadi otoritasnya dalam menentukan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Ketahuilah bahwa apa yang telah dinyatakan oleh peraturan kitab suci, kerjakanlah tugasmu di dunia ini” (Bhagawadgita XVI.24). Kitab Smrti yang ditulis oleh Yajnawalkya, Manu dan orang-orang bijak lainnya, secara jelas menguraikan tentang susila. Karena kamu tidak memiliki daya maupun waktu untuk berpikir tentang prinsip dan tertib moral yang diberikan dalam kitab suci, kamju dapat memperolehnya dari para bijak dan orang suci, dan mengikutinya. (Sivananda, 2003:66)

B.  Kedudukan Etika dalam pandagan Agama Hindu

Etika bergerak dalam lapangan kesusilaan, artinya bertalian dengan norma-norma yang seharusnya berlaku dan ketaatan batin kepada norma-norma itu. Jadi etika berkedudukan sebagai ilmu pengetahuan Tata susila yang mengatur tingkah laku manusia dalam hubungan dengan Tuhan, sesama manusia dan alam sekitar agar perbuatannya tidak menyimpang dari sabda Hyang widhi. Maka dari itu etika merupakan bagian yang tak terpisahkan dari agama Hindu, yang mengatur dan menentukan tingkah laku manusia, hubungan dengan sesamanya dan hubungannya dengan Tuhan. Berdasarkan uraian di atas dapatlah dikatakan bahwa etika mempunyai kedudukan yang amat penting dalam theologi Hindu sebab dengan demikian dapat menyatakan kasih sayang Hyang widhi. Karena itu etika merupakan landasan dan pedoman bagi umat manusia dalam mengarungi lautan hidup dan kehidupan didunia ini untuk mendapatkan kesejahteraan dan kebahgiaan di dunia fana (jagadhita) dan akhirat (moksa).

Manusia bersifat jasmani rohani. Kesatuan itu disebut mono-dualis. Karena jasmaninya manusia adalah makhluk badani dan harus menjalankan hidupnya di dunia ini. Dia harus bersikap, bertindak bergerak dan bekerja. Untuk pertumbuhan dan kesehatannya manusia tidak hanya memerlukan makan, tetapi harus juga mengerti apa yang dimakannya dan bagaimana cara makan yang benar. Dalam membuat sesuatu, manusia tidak saja memikirkan apa yang mungkin, tetapi harus mengerti serta memikirkan apa yang baik dan benar. Hakekat kerohaniannya mendorong manusia untuk selalu berbuat suci yaitu segala tindakan, perkataan dan pikirannya tidak menyimpang dari ajaran suci weda. Kesucian itu merupakan tangga untuk mendapatkan kebahagiaan abadi (suka tan pawali duka), yaitu bersatunya Atman kepada Brahman. Tentu saja etika dalam agama Hindu norma agama yang dijadikan titik tolak berpikir. Demikianlah pola-pola kepercayaan, paham-paham filsafat agama Hindu mempunyai kedudukan yang amat penting dalam etika Hindu.

D.Fungsi Etika Dalam Pandangan Agama Hindu

Untuk dapat melihat jaringan norma dengan lebih lengkap berikut diuraikan fungsi dari etika termaksud ( I Gede A.B.Wiranata,2005):

a. Etika berfungsi sebagai pembimbing tingkah laku manusia agar dalam mengelola kehidupan ini tidak sampai bersifat tragis.Etika berusaha mencegah tersebarnya tracticida ( act of breaking) yang secara legendaries dan historis mewarnai sejarah hidup manusia.

b. Etika juga berfungsi untuk membantu manusia mencari orientasi secara kritis dalam sistematis,sedang yang dihasilkannya bukanlah kebaikan,melaikan suatu pengertian yang lebih mendasar dan kritis.

c. Etika juga mempunyai fungsi penting dalam pendidikan.Pendidikan professional tanpa disertai dengan pendidikan mengenai tanggung jawab dan etika professional tidaklah lengkap.Tanpa adanya landasan etika dan moral dalam mengemban profesi,tidak terbayangkan apa yang akan terjadi jika menimpa para insan mahasiswa sebagai penerus pembangunan bangsa.

E. Manfaat Etika Dalam Pandangann Agama Hindu

Moralitas merupakan gerbang menuju agama. Ia yang menjalani kehidupan bermoral dan bajik, mencapai kebebasan, kesempurnaan atau moksa. Pelaksanaan tata susila akan membantumu untuk hidup dalam keselarasan dengan tetangga, kawan, anggota keluarga sendiri, sesama manusia dan orang lain. Ia akan memberimu kebahagiaan abadi atau moksa dan akan memurnikan hatimu, serta tetap menjaga hati nuranimu tetap bersih. Orang yang bermoral, yang secara ketat mengikuti prinsip-prinsip tata susila tak akan pernah menyimpang satu inci pun dari jalan dharma atau kebajikan. Yudhistira telah memperoleh reputasi yang tak  kunjung padam dalam pelaksanaan tata susilanya. Ia merupakan pengejewantahan dari dharma. Hingga ia tetap hidup di hati kita. Prilaku yang kurang baik merupakan akar kemakmuran material dan spiritual, karena ia meningkatkan kemasyuran. Prilakulah yang memperpanjang kehidupan dan menghancurkan segala bencana dan kejahatan serta memberikan kebahagiaan abadi. Perilaku yang baiklah yang memberikan kebajikan. Oleh karenaa itu kembangkanlah prilaku yang baik. Manfat etika menurut Ketut Ridjin (Ketut Rindjin, 2004) :

a. Etika dapat mendorong dan mengajak orang untuk bersikap kritisdan rasional. Masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan pandangannya sendiri dan dapat dipertanggung jawabkan.

b. Etika dapat mengarahkan masyarakat untuk berkembang menjadi masyarakat yang tertib, teratur, damai dengan cara mentaatinorma-norma yang berlaku. Dengan mengikuti norma-normayang berlaku, maka kelainan-kelainan yang sering terjadi dan mengakibatkan adanya ketidak tertiban dapat dipulihkan demi untuk tercapainya kedamaian, ketertiban dan kesejahteraan masyarakat.

F. Tujuan Etika dalam  Pandangan Agama Hindu

Landasan dasar etika dan moralitas bagi umat Hindu adalah agama Hindu, sedangkan pedoman yang dipergunakan adalah Kitab Suci Weda dan Kitab-kitab suci lainnya. Adapun tujuan susila atau etika dan moralitas agama Hindu adalah:


1. Untuk membina agar umat Hindu dapat memelihara hubungan dengan baik.
2. Untuk menghindarkan adanya hukum rimba, dimana yang kuat menindas atau memperalat yang lemah.

3. Untuk membina agar umat Hindu dapat menjadi manusia yang baik dan berbudi luhur.

4. Untuk membina agar umat Hindu selalu bersikap dan bertingkah laku baik, termasuk selalu berbuat baik dengan siapapun juga. Ajaran tentang susila agama bukan saja penting untuk dipahami, tetapi yang lebih penting lagi adalah untuk diamalkan, untuk dilaksanakan dalam pergaulan hidup sehari-hari, untuk diamalkan sesuai dengan petunjuk-petunjuk agama, sehingga dapat terbentuk masyarakat yang berbudi luhur dan mulia. Manusia diciptakan Hyang Widhi untuk berbuat baik (subha karma) agar mendapatkan kebahagiaan, kesejahteraan dan ketentraman. Etika menghendaki kehidupan harmonis dan selaras. Manusia merupakan homo-homini-socius yaitu makhluk yang hidup bermasyarakat dan merupakan bagian alam semesta. Sebagai anggota masyarakat, manusia mempunyai bermacam-macam hubungan yang harus dilaksanakan secara baik (susila). Sebagai bagian dari alam semesta, manusia harus dapat memelihara lingkungan hidupnya, yaitu lingkungan tempat tinggal. Sri Sankara mengharapkan agar setiap orang senantiasa bekerja atas dasar bhakti (bhakti marga) kepada Hyang Widhi yang kuat Sradhanya, memandang segala perintah agama sebagai kebutuhan. Karena itu akan selalu merasa wajib untuk melaksanakannya. Apabila kewajiban itu tidak dilaksanakan, maka akan timbul penyesalan, rasa dosa, karena kehausannya akan perlindungan Hyang Widhi tidak terpenuhi.
Tentu saja etika dalam agama Hindu norma agama yang dijadikan titik tolak berpikir. Demikianlah pola-pola kepercayaan, paham-paham filsafat agama Hindu mempunyai kedudukan yang amat penting dalam etika Hindu. Kepercayaan agama Hindu berpangkal dari kepercayaan kepada Tuhan yan berada di mana-mana, yang mengetahui segala. Ia adalah saksi agung yang menjadi saksi segala perbuatan manusia. Karena itu manusia tidak dapat menyembunyikan segala perbuatannya terhadap Tuhan baik perbuatan itu perbuatan baik maupun perbuatan yang buruk.

“yas tisthati carati yasca vancatiyo nilayam carati yah prantankamdvau sannisadya yan mantrayete raja tad veda varunas trtiyah “(Atharva Veda 11. 16. 2)

 Artinya:

 Siapapun berdiri,berjalan, bergerak dengan sembunyi-sembunyi, siapapun yang membaringkan diri atau bangun, apapun yang dua orang yang duduk bersama bisikkan satu dengan yang lainnya, semuanya itu Tuhan, Sang Raja mengetahui, Ia adalah yang ketiga hadir disana.

F. Etika Sebagai Aturan Tingkah Laku yang Baik

Etika dan moralitas agama Hindu pada dasarnya mengajarkan aturan tingkah laku yang baik dan mulia. Ajaran tingkah laku yang baik dan mulia terdiri dari:

1. Catur Marga atau empat jalan menuju kesempurnaan hidup.

·         Bhakti Marga

·          Karma Marga

·         Jnana Marga

·         Raja Marga

2. Tri Kaya Parisudha atau tiga perilaku yang baik.

·         Manacika

·         Wacika

·          Kayika

3. Panca Yama Brata atau lima cara pengendalian diri.

·         Ahimsa

·         Brahmacari

·         Satya

·         Awyawahara

·         Asteya

4. Dasa Yama Brata atau sepuluh cara pengendalian diri.

·         Anrsamsa : tidak kejam

·         Ksama : pemaaf

·         Satya : kesetiaan, kebenaran dan kejujuran

·         Ahimsa : tidak menyakiti atau mebunuh

·         Dama : mengendalikan hawa nafsu

·          Arjawa : tetap pendiriang. Priti : welas asih

·          Prasada : berpikir jernih dan suci

·         Madhurya : ramah tamah

·         Mardawa : lemah lembut

5. Panca Niyama Brata atau lima cara pengendalian diri lanjutan.

·         Akrodha : tidak marah

·          Guru susrusa : hormat kepada guru

·         Sauca : bersih atau suci

·          Aharalaghawa : makan makanan sederhana

·         Apramadha : tidak mngabaikaan kewajiban

6. Dasa Niyama Brata atau sepuluh cara pengendalian diri lanjutan.

·         Dana : pemberian sedekah

·          Ijya : puja dan puji kepada Tuhan

·         Tapa : menghindarkan keduniawian

·         Dhyana : pemusatan pikirane. Swadhyaya : belajar sendiri

·         Upasthanigraha : pengendalian hawa nafsu

·         Bratha : pelaksanaan pantangan

·         Upawasa : puasa

 

·         Mona : tidak berbicara

·         Snana : pemberian sedekah

7. Dasa Dharma atau sepuluh perbuatan baik berdasarkan agama.

·         Dhriti : bekerja sungguh-sungguh

·          Ksama : mudah memberi maaf

·         Dama : dapat mengendalikan hawa nafsu

·         Asteya : tidak mencuri

·          Sauca : bersih dan suci

·         Indryanigraha : dapat mengendalikan keinginan

·         Dhira : berani menbela yang benar

·         Widya : sanggup belajar dan mengajar

·         Satya : kebenaran, kesetiaan dan kejujuran

·         Akrodha : tidak marah

8. Catur Purusa Artha atau empat cara untuk memenuhi tujuan hidup.

·         Dharma : Kebaikan, kebenaran.

·          Artha : materi

·         Kama : hawa nafsu

·         Moksa : kebebasan dunia akhirat.

9. Catur Paramitha atau empat perbuatan luhur.

·         Maitri : bersahabat

·         Karuna : cinta kasih

·         Mudhita : bersimpati

·         Upeksa : toleransi

10. Tri Hita Karana atau tiga cara pencapaian kebahagian hidup.

·         Parhyangan : hubungan harmonis dengan Hyang Widhi Wasa

·         Pawongan : hubungan harmonis dengan sesama manusia

·         Palemahan : hubungan harmonis dengan lingkungan

11. Asta Brata atau delapan cara cara pengendalian diri mengikuti sifat-sifat para dewa.

·           Surya Brata yaitu pengendalian diri menguikuti sifat baik matahari, tanpa pilih kasih

·           Chandra Brata yaitu mengendalikan diri mengikuti sifat bulan yang lembut dan ramah tamah

·           Bayu Brata yaitu mengendalikan diri sesuai sifat angin, hidup dengan penuh toleransi dan rukun

·           Kuwera Brata yaitu mengendalikan diri meniru sifat Dewa kekayaan, memakai harta benda untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia

·           Baruna Brata yaitu mengendalikan diri sesuai sifat-sifat Baruna, yaitu menghormati peraturan dan ketentuan yang berlaku

·           Agni Brata yaitu mengendalikan diri sesuai sifat Dewa Agni, yakni menghancurkan siapa saja yang hendak berbuat jahat

·           Yama Brata yaitu mengendalikan diri dengan memegang teguh keadilan dan kebenaran

·           Indra Brata yaitu mengendalikan diri dengan melindungi orang kecil dan memerlukan bantuan atau dalam kesulitan

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB III

PENUTUP

A.  Kesimpulan

Agama Hindu memiliki kerangka dasar yang dapat dipergunakan oleh umatnya sebagai landasan untuk memahami, mengalami dan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Kerangka dasar tersebut terdiri atas tiga unsur, yaitu:1. Tattwa atau filsafat Agama Hindu,2. Susila atau Etika, dan 3. Acara atau Ritual Agama Hindu.

Susila dalam Agama Hindu merupakan kerangka dasar yang kedua. Susila berasal dari kosa kata bahasa Sanskerta yang artinya tingkah laku yang baik atau menunjukkan kebaikan. Susila adalah istilah lain dari kata etika dan moral. Etika dan moral merupakan dua kata yang dipergunakan silih berganti untuk maksud yang sama. Berdasarkan uraian di atas dapat kita pahami bahwa etika merupakan ajaran perilaku atau perbuatan yang bersifat sistematis tentang perilaku (karma). Ajaran susila hendaknya diterapkan dalam kehidupan kita di dunia ini karena dunia inilah tempat kita berkarma. Etika yang berasal dari bahasa Yunani ethos, dalam tiga pengertian, yaitu, ilmu tentang apa yang baik dan buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak), kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, atau nilai mengenai benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat. Bentuk jamak dari kata “ethos adalah “ta etha” yang berarti adat kebiasaan. Sedangkan moralitas dengan kata asal moral yang memiliki pengertian sama dengan etika berasal dari bahasa Latin “mos” (jamaknya “mores”) yang berarti kebiasaan atau adat. Jadi pengertiaannya sama dengan “ta etha” atau ethos yaitu adat kebiasaan. Dengan latar belakang pengertian yang sama seperti itu, maka sudah zaman dahulu etika dipakai untuk menunjukakan filsafat moral. Etika lalu diartikan sebagai ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan atau sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak atau moral. Etika dan moralitas mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengendalian sikap dan tingkah laku manusia. Fungsi etika karena itu adalah membimbing perilaku manusia agar dapat menjadi orang yang baik. Etika dan moralitas dalam kaitan ini dapat dikatakan memberiakan arahan, garis patokan atau pedoman kepada manusia bagaimana sebaiknya bertingkah laku dalam masyarakat. Tuntunan, bimbingan ataupun petunjuk itu sangat diperlukan agar pergaulan manusia dapat berjalan dengan baik dan harmonis. Etika dan moralitas memberikan petunjuk apakah perbuatan itu baik atau buruk, salah atau benar, sehingga boleh dilakukan atau tidak. Etika dan moralitas juga menunjukkan larangan yang patut diikuti. Dalam hubungan ini, masyarakat tentu harus mengikuti norma-norma yang berlaku

B.  Saran

Diharapkan mahasiswa dapat berbuat baik setelah mempelajari mater ini. Demi kebaikan kedepannnya nanti, semoga mahasiswa tidak sekedar membaca materi ini, tetapi mengamalkkan dan memperbaiki tingkah laku yang sebelumnya kurang baik

 

 

 


Komentar