EKSISTENSI METODOLOGI DALAM MEMBUKTIKAN KEBENARAN-KEBENARAN ILMIAH
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Eksistensi
bisa juga dikenal dengan satu kata yaitu keberadaan. Konsep eksistensi menurut
Dagun (dalam Kartika, 2012: 15) dalam kehidupan sosial manusia yang terpenting
adalah keadaan dirinya sendiri atau eksistensi dirinya sendiri. Eksistensi
dapat diartikan sesuatu yang menganggap keberadaan manusia tidaklah statis,
artinya manusia senantiasa bergerak dari kemungkinan ke kenyataan. Proses ini
berubah bila kini menjadi sesuatu yang mungkin maka besok akan berubah menjadi
kenyataan karena manusia itu mempunyai kebebasan untuk bergerak. Bereksistensi
berarti berani mengambil keputusan yang menentukan bagi hidupnya.
Konsekuensinya jika kita tidak bisa mengambil keputusan dan tidak berani
berbuat maka kita tidak bereksistensi dalam arti yang sebenarnya.
Upaya
manusia dalam mencari sebuah kebenaran dan menemukan inovasi kian hari kian
berkembang. dari penalaran sederhana hingga dengan berbagai metode penelitian
termasuk dalam upaya manusia mencari kebenaran akan suatu fenomena. sebelum
mencari kebenaran dengan rasa ingin tahu yang kita miliki, kita menengok
terlebih dahulu definisi dan sifat kebenaran. kebenaran sendiri memiliki sifat
relatif yang mengakibatkan suatu kebenaran tidak dapat bertahan selamanya, pada
masanya akan muncul kebenaran yang baru yang lebih sesuai dengan kebenaran
terdahulu. jika pembaca bingung akan definisi diatas, maka kita simak contoh
dari kebenaran yang memiliki sifat relatif berikut :
Jauh
sebelum ditemukanya teleskop observer dan wahana antariksa moderen, peradaban
memandang dan memutuskan bahwa bumi adalah pusat alam semesta, hingga Nicolaus
Copernicus membuat terobosan melalui teorema Heliosentrisme dan menemukan bahwa
pusat alam semesta adalah matahari, saat ini kita semua mengetahui bahwa pusat
alam semesta bukanlah matahari, sebab matahari juga mengalami revolusi dan
berputar mengelilingi galaksi bersama dengan objek antariksa yang lainya.
Dari
contoh diatas kita mengetahui bahwa kebenarn dari sutu temuan akan terbantahkan
dan diperbarui oleh kebenaran baru yang lebih relevan. Lain halnya dalam ilmu
sosial dan psikologi, kebenaran akan sebuah temuan akan lebih relatif, sebab
fenomena sosial yang terjadi disebabkan oleh banyak faktor, misalnya budaya,
nilai - nilai (value) bahkan perkembangan teknologi.
Di
dalam makalah ini, penulis berusaha mengulas sekilas tentang Eksistensi
Metodologi Dalam Membuktikan Kebenaran Ilmiah
. Penulis akan membatasi penulisan makalah ini pada pembahasan, Kebenaran itu
muncul, Peran Ilmu Metode Dalam Memperoleh Kebenaran Ilmiah dan Proses
Metodologi Menguji Kebenaran Ilmiah ,sehingga melahirkan kesimpulan yang
betul-betul diakui secara ilmiah.
1.2
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
Kebenaran Itu Muncal?
2. Bagaimana
Peran Ilmu Metode Dalam Memperoleh Kebenaran Ilmiah?
3. Bagaimana
Proses Metodologi Menguji Kebenaran Ilmiah?
1.3
Tujuan
Penulis
1. Untuk
mengetahui itu muncul
2. Mendeskripsikan
Peran Ilmu Metode Dalam Memperoleh Kebenaran Ilmiah
3. Mendeskripsikan
Proses Metodologi Menguji Kebenaran Ilmiah
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Bagaimana Kebenaran Itu Muncul
Kebenaran
ilmiah/kebenaran ilmu pengetahuan (scientific truth) adalah kebenaran yang
ditemukan melalui proses penalaran (reasoning) atau logika penelitian ilmiah.
Kunci kebenaran ilmiah terletak pada metode penemuannya. Kebenaran ilmiah harus
siap diuji keabsahannya dan terbuka untuk diperdebatkan. Seorang pakar politik
boleh saja mengatakan: “Apabila Anda tidak mengikuti paham ini, maka anda tidak
memiliki sikap nasionalisme”. Seorang ilmuwan hanya akan mengatakan: “Sesuai
dengan data yang saya peroleh inilah penemuan (kebenaran) yang saya temukan.
Apabila Anda ragu-ragu, atau tidak percaya pada keabsahan penelitian ini, Anda
bebas mengujinya kembali”. Kebenaran/penjelasan ada 4 macam yaitu:
·
Kebenaran/penjelasan deduktif Segala sesuatu dianggap benar jika ada yang
mengawalinya (pendahulunya)
·
Kebenaran/penjelasan probabilistik Kebenaran yang belum pernah diuji
kebenarannya.
·
Kebenaran/penjelasan teleologis
Kebenaran yang berkaitan dengan agama
·
Kebenaran/penjelasan genetik Sifat kebenaran antara lain: 1. Struktur yang
Rasionalis-Logis 2. Isi Empiris 3. Dapat Diterapkan (Pragmatis) Dalam
perkembangan pemikiran filsafat pembicaraan mengenai kebenaran sudah ada sejak
masa Plato dan Aristoteles. Perbincangan tentang kebenaran ini diawali oleh
kebenaran manusia sebagai makhluk yang berpikir. Dalam Ilmu Mantiq disebut
bahwa: AL-INSANU HAYAWANU NATIQUN (Manusia itu adalah makhluk yang berpikir).
Aristoteles (384-322 SM) mengatakan: man as the animal that reasons (Endang
saifuddin, A. 1979: 14), demikian juga Rene Descartes (1596-1650) berpendirian:
Cogito ergo sum (Harun Hadiwijono, 1997: 21). Bila manusia adalah makhluk yang
berpikir dan berpikir adalah bertanya, bertanya adalah mencari jawaban, maka
mencari jawaban adalah mencari kebenaran. Jadi manusia adalah makhluk rasional
yang mempergunakan otaknya untuk berpikir secara rasional, dan dari hasil
pemikiran yang rasional itulah kebenaran bisa didapat. Karena itu pada dasarnya
manusia adalah makhluk pencari kebenaran (Endang saifuddin, A., 1979: 16).
Ilmu
pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang
suatu objek tertentu, termasuk di dalamnya ilmu pengetahuan itu sendiri. Dan
ilmu pengetahuan merupakan khazanah kekayaan mental yang turut memperkaya
kehidupan manusia. Kiranya sulit dibayang bagaimana kehidupan manusia tanpa
ilmu pengetahuan, karena ia sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul
dalam kehidupan. Dan pada dasarnya setiap jenis ilmu pengetahuan menjawab
pertanyaan tertentu, maka perlu diketahui jawaban apa yang dapat diberikan oleh
ilmu pengetahuan tertentu atau perlu diketahui kepada pengetahuan mana
pertanyaan itu diajukan (Yuyun S. Suria Sumantri, 1995: 104-105). Kita boleh
mengajukan pertanyaan kepada siapa saja, tetapi pada hakikatnya kita mengharapkan
jawaban yang benar. Dan yang menjadi tujuan ilmu pengetahuan ialah tercapainya
kebenaran. Untuk mencapai tujuan itu, yakni kebenaran, perlu menempuh cara yang
dikenal dengan metode ilmiah (Endang Saifuddin A., 1979: 57). Dan cara yang
dilalui oleh proses ilmu pengetahuan sehingga mencapai kebenaran menurut
Cogoci-hypotheticoverifikasi adalah: 1. Perumusan masalah; 2. Penyusunan
kerangka berpikir dalam mengajukan hipotesis; 3. Perumusan hipotesis; 4.
Pengujian hipotesis; 5. Penarikan kesimpulan. (Yuyun S. Suria Sumantri, 1995:
127-128). Dengan demikian ilmu pengetahuan tersusun secara konsisten dan
kebenarannya teruji secara empiris. Proses pembuktian dalam ilmu tidak bersifat
absolut, karena ilmu tidak bertujuan mencari kebanaran absolut, tetapi
kebenaran yang bermanfaat bagi manusia. Dalam setiap perkembangan selanjutnya
kemungkinan tidak benar sangat terbuka. Oleh karena itu kebenaran itu adalah
positif pada waktunya sekaligus relatif.
2.2
Peran Ilmu Metode Dalam Memperoleh Kebenaran Ilmiah
Dalam
hal ini peran ilmu metode sangatlah penting dalam memperoleh kebenaran ilmiah
yang dimana untuk mencari suatu kebenaran hendaknya menggunakan ilmu serta
metode guuna mempermudah dalam menggali atau mencari sutu kebenaran ilmah itu
sendiri.
Kebenaran ilmiah tidak dapat dipisahkan dari
karakteristik yang bersifat ilmiah. Adapun kata ilmiah (Scientific: Inggeris)
dapat diartikan sebagai sesuatu yang bersifat ilmiah; secara ilmu pengetahuan;
memenuhi syarat atau kaidah ilmu pengetahuan (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa, 1994; 370). Dari pengertian ilmiah di atas terlihat
jelas bahwa kebenaran ilmiah itu dapat diaktualisasikan atau dimanifestasikan
dalam pengetahuan ilmiah. Atau dengan kata lain, suatu pengetahuan disebut
ilmiah justru karena di dalam pengetahuan tersebut terdapat suatu kebenaran
yang bersifat ilmiah. Pengetahuan ilmiah bertitik tolak dari kekaguman terhadap
pengalaman biasa atau harian, misalnya saja air jika dipanaskan akan mendidih.
Kekaguman terhadap pengalaman, kebenaran, pengetahuan biasa (common sense),
menimbulkan berbagai ketidakpuasan dan bahkan keraguan terhadap kebenaran
harian tersebut. Ketidakpuasan dan keraguan tersebut akan melahirkan
keingintahuan yang mendalam yang diwujudkan dalam berbagai pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan
tersebut selanjutnya diikuti dengan dilakukannya sejumlah penyelidikan.
Serangkaian proses ilmiah tersebut melahirkan kebenaran ilmiah yang dinyatakan
dalam pengetahuan atau sain (lihat Hardono Hadi, 1994: 13- 27). Kebenaran
ilmiah yang diwujudkan dalam ilmu pengetahuan atau sain dapat disebut sebagai
ilmu jika memenuhi berbagai syarat. Syaratsyarat tersebut adalah objektivitas, metodologis,
universal, dan sistematis (Bandingkan Poedjawijatna, 1967; 14). Lebih lanjut
Beerling (1986; 6-7) menegaskan bahwa kemandirian ilmu pengetahuan ilmiah
sesungguhnya berkaitan dengan tiga norma ilmiah. Pertama pengetahuan ilmiah
merupakan pengetahuan yang memiliki dasar pembenaran. Kedua pengetahuan ilmiah
bersifat sistematis. Ketiga pengetahuan ilmiah bersifat intersubjektif.
2.3.
Proses Metodologi Menguji Kebenaran Ilmiah
Dalam
uji kebenaran yang diperlukan teori atau metode yang berfungsi sebagai petunjuk
jalannya pengujian kebenaran. Jujun S. Suriasumantri (2010), Louise
Kattsoff (2006), Surajiyo (2010) dan Muchtar Latif (2014) mengemukakan beberapa
teori tentang kebenaran ilmiah, yaitu: kebenaran koherensi, kebenaran
korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik, dan kebenaran
proposisi.
Pertama, kebenaran
koherensi ( teori koherensi kebenaran ). Sesuatu yang koheren
dengan sesuatu yang lain berarti ada kesesuaian atau keharmonisan dengan
sesuatu yang memiliki hirarki lebih tinggi, hal ini dapat berupa skema,
sisitem, atau nilai. Dengan kata lain, suatu pernyataan pernyataan benar
jika pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan
sebelumnya yang benar-benar. Teori ini merupakan suatu usaha pengujian
atau tes atas arti kebenaran. Suatu keputusan yang benar-benar putusan itu
konsisten dengan putusan yang lebih diterima dan diketahui
kebenarannya. Putusan yang benar yaitu suatu putusan yang saling
berhubungan secara logis dengan putusan lainnya yang relevan.
Teori
ini dipandang sebagai teori ilmiah yang sering dilakukan dalam penelitian
pengukuran psikologi dan pendidikan. Teori ini tidak bertentangan dengan
teori korespondensi dan kelebihan saling melengkapi. Teori koherensi yaitu
pendalaman dan kelanjutan yang berasal dari teori korespondensi. Teori
koherensi menyatakan suatu pernyataan yang benar bila di dalamnya tidak ada
pertentangan, bersifat koheren dan konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang
telah benar-benar. Dengan demikian, suatu pernyataan yang benar jika
pernyataan itu dilaksanakan atas pertimbangan yang pertimbangan dan
pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya.
Kedua, kebenaran
korespondensi ( teori korespondensi tentang
kebenaran ). Berfikir benar korespondensi adalah berfikir tentang
terbuktinya sesuatu yang relevan dengan sesuatu yang lain. Korespondensi
yang relevan dibuktikan kejadian yang sejalan atau berlawanan arah antara fakta
dengan fakta yang diharapkan (positifisme), antara fakta dengan keyakinan yang
dikatakan, yang sifatnya spesifik. Dengan kata lain, teori ini menjelaskan
bahwa suatu kebenaran atau suatu keadaan benar-benar ada kesesuaian antara arti
yang menyatakan suatu pernyataan. Berdasarkan teori korespondensi ini,
kebenaran atau keadaan dapat dilihat dengan membandingkan antara preposisi dan
fakta atau kebenaran yang berhubungan. Apabila hadiah terdapat kesesuaian
( korespondensi), maka proposisi ini dapat dikatakan memenuhi standar
kebenaran.
Ketiga, kebenaran
performatif ( teori kinerja kebenaran ). Ketika pemikiran
manusia menyatukan segalanya dalam tampilan aktual dan menyatukan apapun yang
ada dibaliknya, baik yang praktis, yang teoritik, maupun yang
filosofik. Orang yang mengetengahkan kebenaran tampilan aktual yang
disebut dengan kebenaran performatif tokoh penganut ini antara lain Strawson
(1950) dan Geach (1960) sesuatu sebagai benar bila dapat diaktualkan dalam tindakan. Teori
ini menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh otoritas
otoritas tertentu. Pemegang otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah,
pemimpin agama, pemimpin adat, pemimpin masyarakat dan sebagainya.
Keempat, kebenaran
pragmatik ( teori kebenaran pragmatis ). Menurut William James,
pragmatik berasal dari pragma bahasa Yunani , yang berarti
tindakan atau action . Dari
istilah praktik dan praktis yang dikembangkan dalam bahasa
Inggris. Pragmatisme kebenaran kebenaran dalam praktik yang dikenal
sebagai pendidik sebagai metode atau metode pemecahan masalah dalam
pengelolaan. Mereka akan merasakan masalah jika mereka berguna dan mampu
memecahkan masalah yang ada. Artinya sesuatu itu benar jika mengembalikan
pribadi manusia dalam keseimbangan dan keadaan tanpa masalah.
Teori
perintis ini adalah Charles S. Pierce (1914-1939) dalam tulisannya yang
berjudul How to Make Our Ideas untuk pertama kalinya dan diikuti oleh
William James dan John Dewey. Yang benar adalah yang konkret, yang
individu, dan spesifik, demikian James Dewey lebih lanjut menyatakan bahwa 5
kebenaran merupakan korespondensi antara ide dengan fakta, dan arti
korespondensi menurut Dewey adalah praktis. Teori Dewey mengerti mengerti
objek secara langsung (teori korespondensi) atau cara tidak langsung melalui
kesan-kesan dari realita (teori konsistensi), melainkan segalanya
melalui pemecahan masalah.
Kelima, kebenaran struktural ( teori kebenaran struktural ). Teori ini menyatakan bahwa suatu teori dinyatakan benar jika teori itu berdasarkan pada paradiga atau perspektif tertentu, dan ada komunitas ilmuwan yang mengakui atau mendukung paradigma ini. Banyak sejarawan dan filosofi sains masa kini menekankan bahwa ditentukan oleh fenomena atau realitas yang dipilih untuk dipelajari oleh kelompok ilmiah ditentukan oleh pandangan tertentu tentang realitas yang telah diterima secara apriori oleh kelompok tersebut. Paradigma yaitu apa yang dimiliki bersama oleh anggota suatu masyarakat sains atau dengan kata lain masyarakat sains yaitu orang-orang yang memiliki suatu paradigma bersama.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah diatas diantaranya:
1.
Kebenaran yang
ditemukan melalui proses penalaran (reasoning) atau logika penelitian ilmiah.
Kunci kebenaran ilmiah terletak pada metode penemuannya.
2.
Suatu kebenaran yang
dapat memberikan jawaban pasti kepada setiap pertanyaan yang diajukan oleh
penanya itu sendiri, kebenaran itu adalah positif pada waktunya sekaligus
relatif.
3.
Kebenaran ilmiah itu
dapat diaktualisasikan atau dimanifestasikan dalam pengetahuan ilmiah. Atau
dengan kata lain, suatu pengetahuan disebut ilmiah justru karena di dalam
pengetahuan tersebut terdapat suatu kebenaran yang bersifat ilmiah.
4.
Terdapat beberapa proses metodologi kebenaran ilmiah
melalui kebenaran koherensi, kebenaran
korespondensi, kebenaran performatif, kebenaran pragmatik, dan kebenaran
proposisi.
3.2 Saran
Dalam mencari suatu kebenaran maka digunakan ilmu pengetahuan dan kemudian akan mendapat hasil secara kebenaran ilmiah yang dapat dibuktikan kebenaran. diharapkan kepada generasi muda untuk dapat memberikan potensinya dalam bidang ilmu pengetahuan guna menambah referensi sesuai dengan bidangnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Jamaluddin. 2015. Metode
Penelitian Administrasi Publik: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Gava
Media.
Ashori, Endang
Saefuddin. 2009. Ilmu, Filsafat dan Agama. Edisi
Revisi. Jakarta: Bina Ilmu
Bakhtiar,
Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Endang
Saifuddin Anshari, H. 1979. Ilmu Filsafat dan Agama. Surabaya : Bina Ilmu Harun
Hadiwijono. 1997. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta : Kanisius
Jujun S.
Suriasumantri. 2010. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar
Populer. Jakarta: PT Penebar Swadaya.
Kattsoff,
Louise. 2006. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara
Wacana.
Latif,
Muchtar. 2014. Orientasi Kearah Pemahaman Filsafat Ilmu. Jakarta:
Grup Media Prenada.
Liang
Gie. 2007. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta:
Liberty.
Muslih,
Mohammad. 2005. Filsafat Ilmu, Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma
dan Kerangka Teori llmu Pengetahuan. Yogyakarta: Belukar.
Nata,
Abuddin. 1999. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta:
Logos Wacana Ilmu.
Sedarmayanti,
Syarifudin Hidayat. 2011. Metodologi Penelitian. Bandung:
Penerbit Mandar Maju.
Sulistyo
Basuki. 2010. Metode Penelitian. Jakarta: Penerbit
Penaku.
Surajiyo. 2010. Filsafat
Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Yuyun
S. Suria Sumantri. 1995. Filsafat Ilmu. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan (https://besmart.uny.ac.id/v2/pluginfile.php/32777/mod_resource/content/1/7.%20KEBENARAN%20ILMIAH.pdf)
Komentar
Posting Komentar